Rumah Bintang gelar acara 12 Tahun Bersama Wujudkan Mimpi

user
Farah Fuadona 08 April 2016, 15:53 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Komunitas Rumah Bintang Bandung saat ini berusia 12 tahun. Merayakan ulang tahunnya, komunitas rumah belajar yang mengusung tagline "Bersama Wujudkan Mimpi" itu menggelar pameran dan pertujukkan di Institut Francais d Indonesia (IFI) Bandung, Jumat dan Sabtu.

Ketua pelaksana acara, Eko Wiryawan mengatakan, acara 12 tahun Rumah Bintang berjudul "Wujudkan Mimpi Bersama" dengan tema nusantara. Acara dibagi dua, hari pertama berisi pameran karya-karya para murid Rumah Bintang.

Sedangkan hari kedua, Sabtu (9/4), akan berisi pertunjukan teater dan kabaret, juga karya murid Rumah Bintang.

Pameran karya terdiri dari pameran gambar, fotografi, buku dongeng, mainan limbah, maket atau pop up, boneka, dan lain-lain.

Sedangkan pertunjukan seni terdiri dari kabaret/taterikal berjudul Rumah Pohon dan Tuan Licin, pembacaan puisi, tari tradisional dan kontemporer, perkusi limbah, pantomim, dan workshop mainan.

"Pameran dan pertunjukkan ini 100 persen karya anak-anak. Mereka membuat karya, merencanakan pertunjukkan," kata Eko, kepada Merdeka Bandung, Jumat (8/4).

Para murid rumah bintang adalah anak-anak usia TK hingga SMP. Mereka adalah anak-anak yang kurang mendapatkan akses pendidikan. Di Rumah Bintang, mereka bisa belajar sambil bermain. Rumah Bintang juga mengajarkan bahasa, logika dan etika kepada anak-anak dengan cara menyenangkan. Hingga saat ini Rumah Bintang sudah menghasilkan 200 lebih lulusan.

Untuk mengukuti pameran dan pertunjukkan terkait ulang tahun Rumah Bintang, anak-anak menyiapkan sendiri karya yang akan dipamerkan. Menurut Eko yang mengajar kelas profesi di Rumah Bintang, pegiat Rumah Bintang dalam acara tersebut hanya sebagai fasilitator. Sedangkan acara semuanya diisi anak-anak.

"Contohnya saat kita akan menggelar kabaret, kita bagikan kertas untuk menyaring ide anak-anak. Dari situ kita diskusi dan mencari masukan anak-anak," kata Eko.

Selain pameran karya dan pertunjukkan, acara tersebut juga akan dihadiri pegiat dan peserta rumah belajar Moro-moro, Lampung. Para peserta dari Moro-moro adalah anak-anak korban sengketa tanah.

Peserta lainnya datang dari komunitas belajar Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung. "Kita harap acara ini menjadi inspirasi dan memperluas persaudaraan," katanya.





Kredit

Bagikan