Setelah operasi pemisahan Gisya dan Gesya, tim dokter waspadai infeksi

Bayi Gisya
Bandung.merdeka.com - Meski operasi pemisahan bayi kembar siam Gisya dan Gesya berjalan lancar, namun pasca operasi kedua bayi asal Ciamis, Jawa Barat, itu belum melewati masa krisis. Tim dokter melakukan penanagan khusus selama seminggu pascaoperasi.
Ketua tim penanganan bayi kembar siam Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Dadang Sjarif Hidajat Effendi mengatakan salah satu ancaman yang dihadapi bayi pascaoperasi adalah pendarahan hingga infeksi.
“Jadi sesudah selesai operasi bukan berarti selesai, kita tetap waspada. Penanganan tetap ketat untuk melihat tanda-tanda vital. Bayi selesai operasi sangat berat dia bisa syok, pendarahan lagi, infeksi dan lainnya,” kata dia kepada Merdeka Bandung baru-baru ini.
Meski penanganan Gisya dan Gesya dilakukan di ruang steril, namun infeksi rumah sakit bisa terjadi. Sebab kuman atau virus bisa datang dari luar, misalnya dari pengunjung atau keluarga yang menjenguk.
“Rumah sakit sudah dibuat steril tapi mungkin pengunjung atau orangtua mungkin bawa kuman, terjadilah infeksi karena kuman. Itu yang harus kita waspadai dan kita cegah,” ujarnya.
Untuk itulah seminggu pascaoperasi tim penanganan tetap stand by. Operasi pemisahan kembar siam tergolong operasi sangat besar, sehingga diperlukan tim khusus yang menanganinya.
Ia menyebutkan, ada 70 dokter dan perawat yang terlibat dari awal penanganan kembar siam Gisya dan Gesya. Mereka berasal dari berbagai spesilis dan subspesialis mulai dokter anak, dokter bedah umum, dokter bedah anak, bedah tulang, dokter bedah plastik, dokter anastesi dan lain-lain.
Selain itu, bayi Gisya mengalami kelainan jantung. Hal ini membuat tubuhnya membiru karena terjadinya percampuran darah bersih dan darah kotor. Sehingga Gisya perlu menjalani operasi lanjutan untuk mengatasi kelainan jantungnya.
“Secara umum aliran darah yang bercampur karena kelainan anatomi. Pencegahannya dengan pemberian nutrisi yang baik. Namun ini baru untuk mengatasi kegawatan, kelainannya belum diatasi secara tuntas. Jadi ada operasi kelanjutan jantung,” katanya.
Setelah sepekan pertama pemantauan khusus, masih ada tahapan berikutnya. “Tahapan selanjutnya pemantauan tumbuh kembang. Tujuannya untuk menumbuhkan anak ini menjadi baik,” ujar dr. Dadang.
Untuk diketahui, bayi kembar siam Gisya dan Gesya menjalani operasi pemisahan Selasa (27/9). Bayi kembar ini anak pasangan suami istri Syarif (24) dan Gina (19). Keduanya lahir di RSUD Ciamis, 4 Juli 2016 dalam keadaan dempet dada. Setelah operasi pemisahan kedua bayi diberi nama Gisya Bizanty Ramadani dan Gesya Ummaya Ramadani.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak