Hadirilah bedah buku 'Politik Petani Tembakau'


Bedah buku Politik Petani Tembakau di Bandung
Bandung.merdeka.com - Banyak cara mengungkapkan protes terhadap pemerintah. Misalnya petani tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, mengungkapkannya dengan berbagai cara unik, mulai dari kesenian seperti puisi dan tarian, hingga ritus ziarah kubur.
Protes petani Tembakau melalui cara khusus itulah yang dikupas pensiunan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, dalam disertasinya yang berjudul "Perlawanan Politik dan Puitik (Ekspresi Politik Petani Temanggung)."
Disertasi yang kemudian jadi buku dan dikonsumsi masyarakat umum ini akan didiskusikan budayawan Hawe Setiawan, dan para pembahas lain seperto Haris Jauhuari, Dede Muyanto dan Andi Sri Wahyudi, Selasa 20 September 2016 pukul 15.00 WIB di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung.
Dalam buku tersebut, Sobary memaparkan bahwa petani tembakau menolak Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif produk tembakau bagi kesehatan.
Dalam mengungkapkan protesnya melalui puisi, petani tembakau di Temanggung menggunakan puisi berjudul 'Manunggaling Kawulo Alit' yang berarti menyatunya rakyat dengan penguasa.
Menurut Sobary, petani tembakau Temanggung juga menggunakan drama tari 'Tundung Kolo Bendu' untuk menyampaikan protesnya. Drama tari yang ditampilkan di banyak panggung di Temanggung itu menceritakan soal ketentraman masyarakat yang diusik oleh tokoh Polo Miris dan Saudagar Bolang-baleng.
"Puisi dan drama tersebut sebagai jeritan petani tembakau kepada pemerintah, yang telah mengeluarkan sehingga menekan para petani, serta menguntungkan pihak asing. Puisi tersebut kerap dibacakan di setiap aksi protes," ujar Sobary, Minggu (18/9).
Buku Sobary menunjukkan betapa perlawanan petani tembakau Temanggung serba dihayati dengan kesungguhan mendalam. Buku ini menggambarkan dengan gamblang bahwa perlawanan petani tembakau Temanggung merupakan suatu ekspresi puitis yang dibingkai oleh tradisi yang di dalamnya mengandung ruh kearifan.
Penasaran dengan diskusi ini? Mari menuju Gedung Indonesia Menggugat.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak