Mau jadi dokter ahli jiwa? Peluang kerjanya besar lho


Ilustrasi dokter
Bandung.merdeka.com - Kedokteran jiwa (psikiater) tidak hanya menangani gangguan jiwa seperti skizofrenia atau depresi. Cakupan kerja psikiater sangat luas, mulai dari penyalahgunaan narkoba, gangguan kepribadian anak, sampai masalah kepikunan.
Saat ini, masih banyak di bidang psikiatri yang kekurangan dokter psikiater. Sehingga bagi calon mahasiswa yang tertantang untuk menggeluti ilmu kejiwaan, peluang kerjanya terbuka luas.
"Semakin hari permasalahan kejiwaan bukan hanya menangani gangguan-gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, depresi, tapi kita sudah sesuai dengan PPDGJ bahwa ilmu jiwa itu menangani mulai dari penyalahgunaan zat narkotika, gangguan kepikunan, autis atau gangguan pada anak, gangguan kepribadian, sampai stres pasca-trauma, semua kita mesti tangani," kata Lucky Saputra kepada Merdeka Bandung.
Dokter yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjdjaran (Unpad) ini menerangkan, PPDGJ adalah buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III) terbitan Departemen Kesehatan RI. Buku ini berisi ruang lingkup gangguan jiwa di Indonesia.
Dengan luasnya ruang lingkup psikiater, kata Lucky, masih banyak pos-pos psikiatri yang kosong. "Jadi banyak bidang yang masih belum ada yang ngisi, banyak yang kosong sebenarnya. Artinya kebutuhan psikiater banyak sekali di Indonesia," katanya.
Untuk itu, kata dia, FK Unpad membuka seluas-luasnya bagi calon mahasiswa yang tidak lama lagi akan mendaftar ke perguruan tinggi agar mendalami ilmu kesehatan jiwa. Tentu pendaftaran tersebut harus melewati seleksi resmi.
Mengenai jumlah mahasiswa peminat psikiater menurutnya tiap tahunnya meningkat. Dalam setahun, FK Unpad meluluskan lima sampai delapan psikiater setelah menjalani kuliah selama delapan semester.
Kapasitas spesialis kesehatan jiwa di FK Unpad sendiri sebanyak 30 sampai 40 orang tiap tahunnya. Jumlah tersebut berdasarkan perbandingan jumlah pengajar dengan jumlah mahasiswa.
"Jumlah pengajar dengan jumlah mahasiswa itu kan satu banding tiga sampai satu banding lima. Kita jumlah pengajarnya 11 orang berarti kapasitasnya 30 sampai 40-an mahasiswa," ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak