Wacana jalan berbayar di Pasteur ditolak DPRD Kota Bandung

Ridwan Kamil
Bandung.merdeka.com - Penerapan electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar yang diajukan Pemkot Bandung dalam Raperda ditolak DPRD Kota Bandung. ERP dinilai masih belum bisa diterapkan karena terbentur Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang kriteria retribusi pengendalian lalu lintas.
Pernyataan tersebut dibacakan Ketua Pansus 10 DPRD Kota Bandung Entang Suryaman dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung DPRD Kota Bandung, Rabu (10/2).
Entang menyebut pelayanan angkutan umum massal di Kota Bandung belum memenuhi standar sehingga tidak bisa menerapkan jalan berbayar untuk saat ini.
"Minimal yang telah diatur dalam Permenhub Nomor 10 Tahun 2012 mengenai standar pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan," kata Entang.
Selain itu, lanjut dia, dalam Raperda yang diajukan tidak tercantum dengan jelas ruas jalan mana saja yang akan diterapkan ERP. Padahal dalam pengajuan seharusnya Pemkot memberikan penjelasan detail rencana lokasi penerapannya.
Di tempat yang sama, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menanggapi dengan santai penolakan Raperda jalan berbayar. Emil mengaku tidak kecewa atas batalnya penerapan ERP di Jalan Pasteur.
Meski dianggap jalan yang menjadi sumber masalah, ia memaklumi wacananya masih berbenturan dengan aturan. Sebab jalan tersebut merupakan jalan nasional.
"Jadi antara niat dengan aturan belum memungkinkan. Karena kan retribusi itu nantinya ke PAD, sementara itu jalan nasional," katanya usai rapat paripurna.
Ia menyebutkan sebenarnya penerapan retribusi bukan hal yang utama. Baginya yang terpenting memecahkan masalah kemacetan akibat kendaraan yang kerap menumpuk ke pintu Tol Pasteur.
Padahal menurutnya, banyak pintu tol lainnya yang bisa dilalui masyarakat yang ingin masuk Bandung. Namun Jalan Pasteur selalu jadi pilihan warga sehingga berbuntut pada kemacetan terutama di hari-hari libur.
"Tujuannya kan bukan keren-kerenan, tapi ada problem yang ingin diselesaikan. Saya pelanggan Tol Moh Toha, kenapa orang-orang maunya ke Pasteur terus?" ujarnya.
Pemkot Bandung tetap fokus mengurai kemacetan di kawasan Pasteur. Alternatif lainnya adalah dengan menghadirkan transportasi massal yang mumpuni. Seperti LRT dan Cable Car. Diharapkan kehadirannya nanti menjadi gebrakan baru mengatasi kemacetan Kota Bandung.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak