Jalan terjal mahasiswi Unpar saat mendaki 'atap' Argentina


Mahasiswi Unpar di Puncak Aconcagua
Bandung.merdeka.com - Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) akhirnya bisa menjejakkan kaki di puncak Gunung Aconcagua, Argentina.
Namun, dalam pendakian ini tim harus mengambil keputusan berat. Salah satu anggota tim, Dian Indah Carolina (20), tidak bisa melanjutkan pendakian ke 'atap' Argentina dengan ketinggian 6.962 mdpl itu.
"Pada perjalanan menuju puncak di ketinggian +/- 6.300 mdpl, Dian Indah Carolina diputuskan untuk tidak melanjutkan pendakian karena mengalami gangguan kesehatan," kata Tim Publikasi Wissemu Alfons Yoshio, Selasa (02/01).
Kondisi Dian tidak memungkinkan untuk melanjutkan summit attack. Ia diharuskan kembali ke camp 3 untuk memulihkan kondisi fisiknya.
"Sebuah keputusan berat yang harus diambil mengingat keselamatan personel pendaki adalah hal yang utama dan sangat penting. Maka dari titik ini pendakian hanya dilanjutkan oleh Fransiska Dimittri dan Mathilda Dwi Lestari," ujarnya.
Tanpa Dian, pendakian dilanjutkan hingga dua anggota tim, Fransiska Dimittri (22) dan Mathilda Dwi Lestari (22), berhasil mengibarkan merah putih di Puncak Aconcagua Sabtu (30/1) pukul 17.45 waktu setempat atau Minggu (31/01) pukul 03.45 WIB.
Melalui foto tim publikasi, setibanya di puncak Fransiska dan Mathilda mengibarkan bendera merah putih dan menunjukkan angklung, alat musik bambu khas Indonesia yang sudah mendunia.
Tim melewati panjangnya jalur menuju puncak dan curamnya tanjakan yang harus mereka lewati. Misalnya, tim menghadapi jalur traverse sepanjang kurang lebih 500 meter yang langsung disusul tanjakan terjal Canaleta (6.600 mdpl) sebelum Puncak Aconcagua. Tantangan dalam perjalanan ini masih ditambah dengan angin yang bertiup kencang dalam perjalanan.
"Ucap syukur adalah hal yang dilakukan oleh Tim WISSEMU ketika mencapai Puncak Aconcagua. Tetapi sayang, waktu tetap berjalan dan mereka harus segera turun untuk kembali ke camp Berlin," tuturnya.
Kekhawatiran utama dalam pendakian menuju atap Argentina itu adalah cuaca yang sangat cepat berubah dengan angin yang tiba-tiba dapat bertiup dengan sangat kencang.
Kondisi tersebut membuat tim tidak dapat berlama-lama di Puncak Aconcagua. Perjalanan turun menuju camp Berlin juga tergolong tidak mudah, banyak jalur-jalur sulit yang harus mereka lalui kembali dan bertambah sulit ketika digunakan untuk berjalan turun.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak