Guru di Bandung kumpulkan koin gugat SK Wali Kota

Guru di Bandung kumpulkan koin
Bandung.merdeka.com - Sekitar 5.300 koin terkumpul dalam aksi solidaritas terhadap pemutasian lima guru SMAN 10 Bandung. Aksi ini sebagai bentuk perlawanan para guru terhadap mutasi yang dinilai sewenang-wenang.
Koin-koin Rp 500 dan Rp 1.000 tersebut diwadahi toples jumbo. Koin hasil pengumpulan dari guru TK hingga SMA se-Kota Bandung.
Aksi yang digalang Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) itu dilakukan di halaman Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, Jalan Diponegoro, Selasa (2/1).
Ketua FAGI Iwan Hermawan mengatakan, koin tersebut sebagai simbol solidaritas para guru terhadap rekannya yang mendapat ketidakadilan. Koin juga sebagai bentuk dukungan terhadap gugatan SK Wali Kota Bandung tentang mutasi lima guru yang saat ini memasuki agenda pemeriksaan berkas.
Lewat gugatan tersebut, kata Iwan, pihaknya menuntut pembatalan SK Wali Kota Bandung. Lima guru SMAN 10 Bandung yang mendapat SK tersebut adalah Rudy Sastra Mulyana, Asep Suparman, Dedi Hermawan, Slamet Sukamto, Bambang Sugianto.
“Kami menuntut teman-teman yang dimutasi dikembalikan mengajar di SMAN 10 Bandung. Sesuai janji WalI Kota Ridwan Kamil di Facebook, jika kami menang di PTUN mereka akan dikembalikan ke SMAN 10 Bandung,” kata Iwan.
Menurutnya, pemutasian guru itu penuh kejanggalan. Dalam kurun empat bulan, mereka mendapat dua kali SK mutasi tanpa formasi jam mengajar. Misalnya Dedi Hermawan guru matematika yang tadinya dimutasi ke SMAN 26 menjadi ke SMAN 24. Namun di SMAN 24 justru kelebihan guru matematika.
Begitu juga Slamet Sukamto guru ekonomi yang tadinya dimutasi ke SMAN 12 menjadi ke SMAN 20 tanpa formasi jam mengajar.
“Kami menganggap ada indikasi tindakan sewenang-wenang pejabat Dinas Pendidikan terhadap bawahannya. Hal ini juga menunjukkan kurang adanya koordinasi pejabat Dinas Pendidikan dengan kepala sekolah. Ini mengakibatkan Wali Kota Bandung di-PTUN-kan,” ungkapnya.
Menurutnya, lima guru yang dimutasi adalah guru yang kritis di sekolahnya. Turunnya SK berawal dari upaya lima guru meminta pertanggungjawaban keuangan sekolah kepada Kepala Sekolah.
“Mereka guru kritis jika dibiarkan akan memberangus daya kritis guru. Ini preseden buruk bagi dunia pendidikan,” tandasnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak