Mahasiswa Unpar taklukkan gunung tertinggi ke-2 di dunia, Aconcagua

user
Mohammad Taufik 02 Februari 2016, 10:12 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Tim Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) Fransiska Dimitri Inkiriwang (22), Mathilda Dwi Lestari (22), dan Dian Indah Carolina (20), berhasil menggapai puncak Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Argentina.

Cuaca ekstrem Gunung Aconcagua yang terletak di jajaran Pegunungan Andes sempat menghadang mereka. Namun tiga srikandi yang kuliah Kampus Unpar Bandung itu berhasil melaluinya.

Tim Publikasi Wissemu Alfons Yoshio mengatakan, Gunung Aconcagua menjadi puncak keempat yang berhasil dicapai Tim Wissemu dalam misi menggapai tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (seven summits).

"Gunung Aconcagua terletak di jajaran Pegunungan Andes dan terkenal memiliki cuaca dingin yang ekstrem ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco," terang Alfons, Senin (01/02).

Ia mengungkapkan keganasan el viento blanco sebagai angin kencang yang dapat mencapai 90 kilometer per jam. Angin tersebut bertiup bersamaan dengan kabut dan hujan salju.

Menurut beberapa pemberitaan media, kata dia, el viento blanco diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (Alm) Norman Edwin dan rekannya (Alm) Didiek Samsu pada saat melakukan ekspedisi seven summits kala itu (1992).

Tim Wissemu, kata dia, sempat merasakan angin kencang dan suhu mencapai -10 derajat Celcius di Refugio Berlin. "Menurut pantauan cuaca selama pendakian Tim Wissemu selalu berhadapan dengan angin yang kencang mencapai 50 kilometer perjam," ujarnya.

Refugio Berlin adalah salah satu camp di Aconcagua dengan ketinggian 5.930 mdpl. Puncak Aconcagua sendiri memiliki ketinggian 6.962 mdpl sekaligus gunung kedua tertinggi di dunia setelah Gunung Everest (8.850 mpdl) di Nepal-Asia.

Kini, setelah mencapai puncak, atas nama tim ia menyampaikan syukur atas keberhasilan tim yang mencapai Puncak Aconcagua.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mau terlibat dan memberikan support-nya terutama kepada pihak kampus Universitas Katolik Parahyangan yang menjadi sponsor tunggal dalam perjalanan ke Gunung Aconcagua ini," ungkapnya.

Untuk diketahui, kata dia, Fransiska, Mathilda, dan Dian adalah anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unpar, yaitu Mahitala. Dalam ekspedisinya, kata dia, Mahitala selalu mendapat dukungan penuh dari pihak kampus.

"Berhasil tim menuju Gunung Aconcagua tentu adalah hasil jerih payah dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak ada henti dan tidak ada lelahnya," katanya.

Menurut catatan Mahitala Unpar, pendakian 7 puncak ( The Seven Summits) benua adalah sebuah pendakian prestisus di dunia pendakian internasional. Tujuh puncak tersebut adalah Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia, Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Vinson Massif (4.889 mdpl ) di Antartika, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Everest (8.848 mdpl) di Nepal dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska.

Pendaki yang mencapai 7 puncak tersebut mendapatkan julukan The Seven Summiteers, sebuah sebutan yang disepakati secara internasional bagi mereka yang berhasil mencapai 7 puncak.

Sejarah mencatat, Richard 'Dick' Bass, pemilik Snowbird Ski Resort, Utah, Amerika Serikat menjadi The Seven Summiteers pertama di dunia. Pada 30 April 1985, Bass menutup rangkaian tujuh pendakiannya dengan mendaki Puncak Everest.

Sebagai pemilik salah satu puncak The Seven Summits (Carstensz Pyramid), seharusnya Indonesia memiliki Seven Summiteers. Usaha mencapai gelar ini dimulai oleh almarhum Norman Edwin dari Mapala Universitas Indonesia.

Kredit

Bagikan