Spanduk penolakan lesbi dan homo muncul di Bandung

Spanduk penolakan lesbi dan homo di Bandung
Bandung.merdeka.com - Sebuah spanduk penolakan kaum lesbi dan homo terpasang disebuah tembok yang berada di Jalan Cigondewah, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Rabu (27/1). Dalam spanduk tersebut tertulis 'Lesbi & Homo Dilarang Masuk ke Wilayah Kami!!'. Di samping spanduk terdapat logo Front Pembela Islam (FPI) mewakili DPC FPI Bandung Kulon.
Ujang Maulana (25), salah seorang pedagang yang biasa berjualan di sekitar lokasi mengatakan spanduk itu sudah terpasang sejak beberapa hari lalu. Menurut dia, pemasangan spanduk itu dilakukan lantaran beredar kabar adanya kaum lesbi yang menetap di kawasan tersebut.
"Katanya memang ada yang seperti itu. Dipasangnya kalau gak salah sama FPI," ujar Ujang kepada Merdeka Bandung saat ditemui di lokasi, Rabu (27/1).
Ujang mengaku tidak mengetahui secara pasti terkait keberadaan kaum lesbi yang diisukan berada di kawasan tersebut. Namun dari informasi yang dia tahu, rumah kontrakan yang berada di Kelurahan Cigondewah Kaler dan Gempol Sari memang banyak ditinggali wanita lesbi.
"Saya juga sering mengamati mereka. Melihat dari penampilannya seperti yang terlihat ganjil. Satu perempuan bergaya seperti laki-laki dengan rambut cepak, sementara yang satunya lagi terlihat feminim," kata Ujang.
Sementara itu, saat dikonfirmasi juru bicara DPC Front Pembela Islam (FPI) Kecamatan Bandung Kulon Tubagus Abbas mengatakan, spanduk penolakan tersebut memang dipasang sejak beberapa waktu lalu. Pihaknya mendapat adanya laporan dari warga sekitar yang memergoki adanya praktik hubungan sejenis di salah satu kamar kos di kawasan tersebut.
" Laporan dari warga memang banyak, dan warga juga sempat melakukan aksi tangkap tangan. Katanya banyak praktek sesama jenis, cewek sama cewek. Warga jadi resah, " ujar Tubagus saat ditemui di Kantor Kecamatan Bandung Kulon, Jalan Holis, Kota Bandung.
Tubagus mengungkapkan, indikasi adanya kaum lesbi itu pun didasari oleh banyaknya pendatang yang didominasi oleh wanita yang bekerja di salah satu pabrik tekstil di kawasan tersebut.
Dia mengatakan, tujuan pemasangan spanduk tersebut hanya ingin menciptakan kondusifitas di lingkungan warga sekitar. Dirinya memastikan tidak akan sampai melalukan tindakan anarkis.
"Ya, kami juga tidak melakukan tindakan anarkis, untuk itu kami lakukan upaya pencegahan agar potensi itu gak semakin meluas. Warga kan pingin aman-aman saja di sini. Tentunya tidak ingin resah," pungkasnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak