Bukan cuma PKI, Komnas HAM sebut 7 versi pelaku Peristiwa 1965


Bedah buku Benturan NU dan PKI
Bandung.merdeka.com - Hingga hari ini sejarah Peristiwa 1965 masih kontroversi. Tidak mudah menyimpulkan siapa pelaku utama atau penyebabnya. Namun berdasarkan penelitian ilmiah, ada tujuh penyebab meletusnya Peristiwa 1965.
Wakil Ketua Komnas HAM, Dianto Bachriadi, mengatakan secara ilmiah tujuh penyebab Peristiwa 1965 tersebut adalah, pertama konflik internal TNI Angkatan Darat.
"Konflik tersebut jadi pemicu di tengah rentannya hubungan kultural masyarakat Indonesia. Mereka diseret ke dalam konflik tersebut," katanya, dalam diskusi Bedah Buku Benturan NU-PKI di Kampus UIN Bandung, Selasa (26/1).
Versi kedua, kata dia, adalah PKI yang menjadi dalang terbunuhnya 7 jenderal. Bahwa PKI sudah merencanakan aksi ini sebelum terjadinya dewan jenderal. Versi ini pula yang disodorkan pemerintah Orde Baru.
Khusus di masa Orde Baru, kata dia, tiap tahunnya selalu diputar film G30S/PKI. Ia menuturkan, pada zaman mahasiswa sulit sekali mencari sisi lain peristiwa 65. "Karena dulu zaman Orde Baru mencari sisi lain Peristiwa 65 ancamannya bisa dipenjara," katanya.
Versi ketiga, lanjut dia, di tubuh partai PKI sendiri ada elemen yang ingin menghancurkan PKI dari dalam. Elemen ini tidak ingin PKI makin kuat. Terlebih pasca-pemilu 1955, PKI menjadi partai komunis terbesar di dunia. PKI merupakan partai cerdas yang mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar.
Versi keempat adalah ulah Soekarno yang mengadu dua kekuatan besar masa itu, yakni TNI dan PKI. Versi ini berasumsi bahwa ada tiga kuatan besar yang bersaing, yakni Soekarno, TNI, dan PKI. Maka Soekarno membenturkan TNI dan PKI agar dirinya menjadi kekuatan penuh.
Dianto sendiri meragukan versi tersebut, mengingat waktu itu kelompok Islam juga menjadi kekuatan yang besar.
Versi kelima, kata dia, adalah adanya operasi intelijen asing, yakni CIA dan Inggris yang tujuannya untuk membabat kekuata pengaruh komunis di Indonesia. Operasi intelijen asing ini dilakukan dalam rangka perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. "Mantan agen CIA mengakui peristiwa 65 sebagai bagian dari operasi CIA," katanya.
Versi keenam, lanjut dia, adalah upaya kudeta Soeharto untuk menguasai negara. Soeharto mengetahui dinamika yang terjadi selama menghadapi rangkaian peristiwa 65. "Versi ini menyebutkan Soeharto mengambil kesempatan untuk membangun negara otoriter. Versi ini disebutkan John Roosa dan Ben Anderson," katanya.
Versi ketujuh, kata dia, semua unsur ikut bermain dalam eskalasi yang memuncak berupa pembunuhan massal. "Jadi peristiwa 65 tak bisa dimonopoli siapa dalangnya. Ada banyak dokumen yang masih belum terungkap. Tugas sejarawan untuk mengungkap itu. Jadi saya tidak setuju kalau pelakunya si A atau si B," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak