DPR sarankan orang Bandung jual keripik singkong ke Afrika


Singkong
Bandung.merdeka.com - Anggota Komisi 1 DPR RI, Arief Suditomo, mengatakan potensi bisnis di Afrika sangat besar terutama di bidang makanan. Artinya, produksi makanan itu merupakan salah satu potensi dagang Indonesia di negara-negara Afrika.
"Bayangkan kita punya industri makanan sangat besar, bukan hanya Indo-indo grup saja, banyak sekali. Sekarang orang Bandung mau menjual keripik singkong kenapa tidak sampai ke Afrika," kata Arief di sela Seminar Internasional 'Indonesia Africa Relations' di Museum KAA Bandung, Kamis (21/1).
Namun, untuk menjual keripik singkong ke Afrika tentu tidak mudah, apalagi sendirian. Maka ia menyarankan agar para pedagang Bandung untuk membentuk wadah atau aliansi. Bentuknya bisa koperasi atau yang sejenisnya.
"Bisa membentuk aliansi lewat koperasi untuk mengekspor singkong, kita kan kaya singkong. Saya rasa itu bisa dirintis. Memang kalau dilakukan sendiri sudah, tapi kalau dilakukan bersama-sama misalnya koperasi, konsorsium, saya pikir tidak ada masalah. Jadi bersatu dulu," ujarnya.
Selain itu, mantan penyiar berita di televisi swasta ini mengingatkan, dagang lintas negara memerlukan jumlah barang yang besar. Eksportir harus memiliki persediaan barang yang volumenya besar dan konsisten.
Pedagang Indonesia, khususnya Bandung, juga harus memanfaatkan lembaga yang ada seperti Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Lembaga-lembaga tersebut akan mengakomodir kebutuhan pedagang atau eksportir.
Arief yang daerah pemilihannya di Jawa Barat, menambahkan DPR siap membantu lewat regulasi. "Kita akan fasilitasi sebagai fasilitator, ayo kita investasi di Afrika, ayo berdagang di sana. Kita dorong dan menciptakan stimulant atau kita buka pasar buat pengusaha di sana," katanya.
Di sisi lain, kata dia, Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki negara lain jika membuka perdagangan di Afrika. Secara historis, hubungan Indonesia-Afrika sangat erat karena peristiwa Konferensi Asia Afrika.
Dengan modal sejarah tersebut, sambung dia, Indonesia memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk berinvestasi maupun berdagang di Afrika.
"Kita punya ikatan historis dengan mereka yang cukup kental. Kalau negara-negara barat itu mereka adalah kolonialis bagi Afrika (dulunya). Tapi Afrika adalah negara yang mengakui kemerdekaan kita di awal-awal kemerdekaan. Itu salah satu pertalian mengukuhkan hubungan kita. Bahwa hubungan historis sudah punya, tinggal hubugan ekonominya yang harus ditingkatkan," ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak