Pasca KAA Bandung, hubungan Indonesia-Afrika kurang erat

user
Farah Fuadona 21 Januari 2016, 15:16 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Beberapa tahun terkhir, Benua Afrika menjadi magnet bagi negara-negara lain. Afrika mulai lepas dari predikat kawasan yang dekat dengan kemiskinan, kelaparan, dan rawan konflik. Perlahan tapi pasti, Afrika mampu menunjukkan potensi yang dimiliknya.
 
Sumber daya alam yang melimpah dan situasi demografi yang mendukung pertumbuhan ekonomi telah menciptakan daya tarik tersendiri bagi benua itu. Negara lain mulai berlomba mengembangkan kerja sama di berbagai bidang dengan negara-negara di Afrika.
 
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa telah lebih dulu menjalin kemitraan dengan kawasan Afrika. Disusul negara-negara seperti Cina yang membentuk Forum on China-Afrika Cooperation (FOCAC), Jepang memiliki Forum Africa Japan Business Investment (TICAD).
 
Negara-negara lain seperti India, Korea Selatan, Turki, Malaysia dan Vietnam juga tidak mau ketinggalan. Mereka turut serta menjangkau Afrika dalam cakupan politik dan ekonomi internasionalnya.
 
Bagaimana dengan Indonesia? Rupanya hubungan Indonesia-Afrika dewasa ini masih kalah erat dibandingkan negara-negara lain. Kesiapan Indonesia menjalin hubungan yang lebih erat dengan Afrika dibahas dalam seminar Internasioal bertajuk “Indonesia Africa Relations” di Museum KAA, Kamis (21/1).
 
Padahal, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam hubungan dengan Afrika. Indonesia memiliki modal besar karena sebagai negara inisiator Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.
 
Saat itu Indonesia banyak menikmati keuntungan politis dari jalinan hubungan dengan Afrika. Sebabnya, KAA menjadi peristiwa bersejarah yang membuat peran Indonesia diakui oleh Afrika.
Plt Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Salman Al Farisi mengatakan ketertinggalan Indonesia untuk menjangkau Afrika dalam berbagai lapisan menuntut kesadaran dan komitmen seluruh pihak.
 
Menurutnya, Indonesia harus meraih manfaat sosial dan ekonomi di kawasan Afrika. “Komitmen pemerintah untuk meningkatkan peran dan kehadiran Indonesia di Afrika harus diiringi dengan mengembangkan ide-ide konkret bagi pelaksanaan hubungan, termasuk di antaranya wacana pembentukan Forum Bisnis Indonesia Afrika,” kata Salman Al Farisi, di sela seminar.

Kredit

Bagikan