Harga Gabah Anjolok, Bukan Tugas Kementan Menyerap dari Petani

user
Endang Saputra 20 Juni 2019, 19:08 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai sebagai pihak yang tidak dapat disalahkan terkait merosotnya harga gabah kering periode Mei 2019.

Mengenai persoalan rendahnya harga gabah pada Mei 2019, dapat juga dimaknai tentang pemahaman peranan antar masing-masing institusi pemerintah yang berwenang.

Demikian dikemukakan pengamat pertanian Universitas Nasional IGS Sukartono, Kamis (20/6).

"Jadi tugas Kementan itu apa? terus yang bertanggungjawab menyerap hasil panen padi petani dalam bentuk gabah itu siapa? Pemahaman saya, itu dilakukan oleh Bulog," ujar Sukartono.

Oleh sebab itu, Sukartono berpendapat, rendahnya harga gabah kering yang terjadi saat ini karena masih banyaknya yang belum terserap oleh Bulog.

"Hukum ekonominya kalau stok masih banyak kan harga bakal jatuh. Gabah petani banyak belum mampu diserap sebab di pasaran juga masih banyak," ucap Sukartono dalam keterangan tertulisnya.

Berbeda halnya jika produksi padi berkurang sehingga menyebabkan harga beras merolet di pasaran, Sukarto menuturkan, maka baru layak ditimpakan kesalahannya pada Kementan.

"Di situ jelas masing-masing tugasnya. Kalau gabah masih banyak belum diserap Bulog, berarti kan produksi padi bagus. Kementan mampu melakukan tanggung jawabnya dengan baik," kata Sukartono.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bila beras jadi penyumbang deflasi sebesar 0,02 persen. Kondisi itu disebabkan anjloknya harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani.

Merosotnya harga GKP petani pada Mei 2019, berdasarkan data BPS, lebih rendah 0,02 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan juga menurun 4,36 persen dari tahun sebelumnya di bulan yang sama.

Kredit

Bagikan