Hidupkan Kembali Kisah-Kisah Legenda Tanah Air Lewat Pameran Batik Gutta Tamarind

user
Endang Saputra 07 Januari 2019, 10:43 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Ada 10 kisah legenda Tanah Air yang kembali 'hidup' dalam pameran ‘Reimagining The Myth Story of Nusantara with Tamarind Batik’ di Gedung Graha Surya, Jalan Nanarohana. Pameran yang menggunakan teknik batik gutta tamarind sebagai material utamanya ini hadir sebagai upaya untuk melestarikan batik serta mensosialisasikan cerita legenda kepada generasi saat ini.

Pameran ini merupakan hajatnya Komunitas 22 Ibu. Ini adalah untuk kedua kalinya pameran yang bertemakan mitos digelar. Sebenarnya, kegiatan ini juga sekaligus memperingati tahun ke enam keberadaan Komunitas 22 Ibu. Pameran ini mencoba mengajak untuk membayangkan kembali mengenai pesona-pesona mitos yang berubah fungsi dan pemaknaannya.

Seperti, lanjutnya, dari hal yang gaib, mistis dan spiritualitas Ke Tuhanan secara alami akrab dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan, kemudian bergeser menjadi lebih akrab dengan hal-hal bersifat materialis, teknologi dan derasnya arus modernisasi
informasi media sosial.

"Pameran ini menghadirkan 10 mitos yang mewakili daerahnya. Ada 56 karya yang dibuat oleh 55 seniman. Diangkatnya mitos ini untuk mensosialisasikan legenda lama tidak dikenal supaya dikenal kembali. Menggunakan teknik batik gutta tamarind, ini dibuat dari biji asam sebagai pengganti lilin pada umumnya," ujar Kurator pameran ‘Reimagining The Myth Story of Nusantara with Tamarind Batik’, Nuning Yanti Damayanti kepada Merdeka Bandung kepada Merdeka Bandung, Minggu (6/1).

Seniman perempuan pendidik seni dari Komunitas 22 Ibu ini, kata dia, mengajak siapa saja yang melihatnya membayangkan kembali, merespon, membaca, dan memaknai mitos-mitos pilihan, yaitu Sangkuriang, Nyai Loro Kidul, Roro Jongrang, Lutung Kasarung, Jaka Tarub, Desa Beringin Cirebon, Legenda Pulau Nias, Barong Landung, Jaka Tingkir, Asal Usul Danau Toba, dan Kisah Burung Enggang.

Pameran ini menginterpretasi ulang mitos melalui berbagai interpretasi visual secara kultural berupa gubahan karya ilustrasi. Karya-karya ilustrasi divisualisasikan dengan pilihan warna-warna kontras khas tropis yang unik, cerah refleksi cahaya matahari, tampil optimis dan menarik perhatian.

"Karya dibuat dengan teknik lukis batik tamarind, tehnik ini disetarakan dengan teknik lukis batik modern. Teknik lukis batik Tamarind dikembangkan oleh komunitas 22 Ibu secara terus menerus dan disosialisasikan dalam berbagai kegiatan pameran serta workshop. Sejak zaman dulu narasi kiprah ibu pertiwi diwariskan secara tersurat, tersirat, lisan dan tulisan, tersampaikan dalam berbagai mitos dan legenda Bumi Nusantara secara turun temurun menampilkan jejak-jejak nilai-nilai kepribadian Bangsa Indonesia," jelasnya.

Tentunya, papar dia, memakai sudut pandang, kaca mata dan pemahaman yang berbeda dari perupa-perupa yang juga perempuan pendidik sekaligus ibu bagi generasi masa kini. Mereka memiliki bahasa visual yang unik dalam mengekspresikan dan menyampaikan pesan- pesan yang memuat harapan, kritik dan ungkapan bahasa lainnya tentang kompleksitas pemaknaan masyarakat tehadap mitos dan legenda yang dikaitkan dengan pemahaman spiritualitas, kegaiban, mistisisme dimasa ini. Karya-karya yang ditampilkan divisualisasikan melalui teknik Batik Tamarind.

"Melukis dengan Teknik Batik Tamarind bisa juga disetarakan dengan teknik membatik lebih kontemporer. Pameran ini diharapkan menjadi salah satu upaya dan kiprah perempuan Indonesia yang multi peran, sebagai ibu yang melahirkan generasi penerus bangsa, yang dibekali berbagai wawasan, tentunya harus memuat nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Muatan narasinya berkaitan dengan spirit dan filsafat kehidupan masyarakat Nusantara," katanya.

Kredit

Bagikan