T Bone KaeF, solusi terapi paliatif bagi penderita kanker yang menyebar ke tulang


T Bone untuk terapi kanker
Bandung.merdeka.com - PT Kimia Farma (Persero) Tbk atau Kimia Farma, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Indonesia (PTRR BATAN) bersinergi menciptakan produk T Bone KaeF. Ini merupakan solusi terapi paliatif bagi penderita kanker yang sudah menyebar ke tulang.
Terapi paliatif merupakan terapi yang dapat mengurangi rasa sakit pada penderita dengan menggunakan analgesik narkotika. Namun, penggunaan analgesik narkotika dalam kurun waktu lama menimbulkan efek samping pada peningkatan dosis dan kecanduan.
“Bermula dari kondisi itu, kami bersinergi untuk mengeluarkan produk T Bone KaeF,” ujar Direktur Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma (Persero) Tbk Pujianto kepada Merdeka Bandung dalam acara Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia 2018, Sabtu (15/9).
Produk ini menjadi pelengkap untuk produk radiofarmasi sebelumnya yang telah tersedia di pasaran yaitu Bonescan, Renalscan, Cardioscan, Endoneuroscan.
Produk T Bone KaeF ini mampu mereduksi rasa sakit tulang berkisar antara 60 hingga 80 persen bagi para penderita kanker sehingga dapat meringankan biaya pengobatan yang berulang. Kimia Farma tak hentinya berinovasi dalam mengembangkan produk obat-obatan yang bermutu tentunya berkolaborasi dengan institusi penelitian untuk mendukung program Indonesia sehat.
“Untuk harga T Bone KaeF ini sekitar Rp 3 juta dan harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan penderita kanker menggunakan morfin untuk solusi terapi paliatif yang sudah menyebar ke tulang. Kalau misal diberikan morfin, murah memang jumlahnya juga banyak tapi sama saja soalnya T Bone KaeF ini lebih efektif khasiatnya dan aman tidak membuat ketergantungan,” jelasnya.
Saat ini, lanjutnya, sudah ada empat rumah sakit di Tanah Air yang menggunakan produk ini sebagai pembebas rasa nyeri ada pasien. Berbahan dasar Samarium 153 (Samarium-Ethylene Dlamine Tetra Methylene Phosphonic Acid), ini bisa digunakan untuk pengganti morfin.
“Penderita kanker itu sudah metatasis ke tulang dan nyerinya begitu luar biasa. Biasanya mereka harus dikasih morfin sebagai penahan nyeri, sedangkan penggunaan morfin itu penggunaan dosisnya meningkat terus dan jaraknya cuma satu dua hari paling lama satu minggu. Ini tentu berbeda dengan T Bone Kaef,” tutup Deputi Kepala BATAN Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir (SATN), Hendig Winarno.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak