Stop! Jangan bully anak berkebutuhan khusus, ini akibatnya..

user
Mohammad Taufik 26 Juli 2017, 12:26 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Belakangan kasus bullying tengah ramai diperbincangkan. Salah satu kasus yang masih marak diperbincangkan adalah yang menimpa Farhan, mahasiswa Universitas Gunadarma.

Banyak yang menyangka Farhan merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Namun, kedua orangtuanya secara tegas membantah bahwa anaknya bukanlah seorang ABK.

Soal bully baik itu pada mereka yang ABK ataupun bukan tentu saja tidak boleh dilakukan karena akan berdampak pada mental. Terutama pada ABK, saat mendapatkan bullying akan merasa sangat stress.

"ABK itu sangat sensitif, jadi memang harus sangat dijaga perasaannya. Mereka sebenarnya tahu saat dibully tapi bingung harus bagaimana," ujar Direktur Autisme Care Center, Juju Sukmana kepada Merdeka Bandung.

Pada ABK yang mengalami bully, kata dia, dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melakukan trauma healing. Secara disadari atau tidak, rasa trauma khususnya bertemu dengan orang-orang tertentu akan dirasakan usai mereka dibully.

"Biasanya untuk penyembuhan trauma healing ini tergantung anaknya sendiri. Bahkan ada yang sampai ingin bunuh diri, namun karena dia mengingat orangtuanya yang sangat baik jadi pikiran itu tidak dilaksanakan," papar dia.

Untuk penanganan perilaku bully pada ABK tentu harus dilakukan treatment yang sangat telaten agar sang anak tak merasakan trauma berkepanjangan.

Sementara itu, bicara soal penanganan kasus bully, sebenarnya sudah ada regulasi yang mengatur itu. Kata Juju, regulasi yang sudah ada namun tidak diaplikasikan dengan cukup baik.

"Sayang banget ya padahal regulasinya sudah cukup jelas untuk para disabilitas tapi pada pelaksanaannya tetap tidak membuat jera bagi mereka yang melakukan bully," tutupnya.

Kredit

Bagikan