9 Ribu penderita katarak di Bandung segera dapat pengobatan gratis


Program pengobatan mata gratis Pemkot Bandung
Bandung.merdeka.com - Pemerintah Kota Bandung bersama Rumah Sakit Cicendo akan melakukan program pengobatan gratis bagi penderita penyakit mata katarak di Kota Bandung. Di sana saat ini terdapat 9 ribu penderita penyakit katarak yang terancam mengalami kebutaan.
Rencana ini merupakan hasil dari pertemuan yang dilakukan RS Cicendo bersama Wali Kota Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Kamis (2/2).
Ridwan Kamil menyambut baik dengan rencana program ini, karena baginya dapat membantu para penderita katarak di Kota Bandung untuk menikmati indahnya suasana kota kembang.
"Kelurahan kita kan ada 151, jika banyak relawan dokter yang ingin mengabdi pada saat libur mungkin pasien penderita katarak akan dapat disembuhkan," ujar Ridwan dalam rilis yang diterima Merdeka Bandung.
Pria yang akrab disapa Emil ini menjelaskan, harus ada program yang memudahkan pasien untuk menerima pelayanan kesehatan, karena banyak pasien merasa kesulitan ketika harus datang ke klinik atau rumah sakit.
"Dokter yang mendatangi penduduk, sehingga pasien segera dapat ditangani dan disembuhkan," katanya.
Berdasarkan data statistik saat ini ada 9 ribu orang Kota Bandung menderita penyakit mata katarak. RS Cicendo menyebut dari jumlah ini memiliki resiko mengalami kebutaan total, namun 80 persen dapat diobati sampai sembuh.
"Saya baru dengar statistiknya, maka dari itu saya harap kita bisa membantu masyarakat Kota Bandung, apa lagi kau bisa kita bantu sampai mereka sembuh total. Ini merupakan program yang harus disegerakan agar tidak ada pasien mengalami kebutaan," ucapnya.
Emil berharap supaya data yang didapat sebanyak 9 ribu penderita segera ditemukan keberadaannya. Sehingga cepat ditangani.
"Semoga secepatnya data ini bisa segera didapatkan sehingga saya bisa publikasikan ke masyarakat, sehingga banyak orang buta segera dapat melihat kembali. Kita harus mencari inovasi dalam sebuah program, orang miskin ingin ke rumah sakit terhambat dengan jumlah dokter yang kurang. Maka dari itu alangkah baiknya mencari relawan," ungkapnya.
Di tempat sama, Direktur Utama RS Cicendo Dr.Irianty, mengatakan program ini digagas untuk mengurangi angka kebutaan di Kota Bandung.
"Buta memang tidak menyebabkan kematian, namun buta akan menurunkan tingkat produktivitas seseorang. Maka dari itu kami ingin melakukan pengobatan secara gratis kepada 9 ribu orang penderita katarak atau mata kucing di Kota Bandung," katanya.
Irianti menambahkan, harus ada peranan pemerintah daerah untuk menguragi angka kebutaan tersebut. Karena penyakit mata tidak haya katarak namun banyak lagi seperti penyakit rabun sehingga seseorang harus memakai kacamata dan tumor mata.
"Kita harus menghambat penyakit ini jangan sampai terlambat, biasanya tumor mata itu ganas sehingga harus di deteksi secara dini supaya tidak semakin parah," ucapnya
Namun ia menyayangkan dengan kurangnya kesadaran penderita untuk secepatnya memeriksa kondisi matanya. Mungkin, kata dia, mereka terhambat oleh biaya atau memang kurang peduli dengan kondisinya sendiri sehingga banyak penderita kesulitan untuk sembuh.
"Dilihat 60 persen penyakit yang diidap, baru direspon oleh orangtua saat penyakit tersebut mulai membesar, 0 sampai 6 bulan sudah keliatan mata kucing namun rata-rata di bawa ke RS pada saat umur 4 tahun," ujarnya.
Selain itu, irianti menjelaskan dari 9 ribu penderita yang sudah diprediksi, hanya 7 ratus penderita saja yang peduli untuk memeriksanya ke RS Cicendo sehingga masih banyak penderita lalai akan kesehatannya.
"Dari 9 ribu penderita di Kota Bandung hanya 7 ratus saja yang melakukan tritmen, sisanya saya pikir mereka kurang peduli dengan kondisi tubuhnya, selain itu katarak sendiri bisa disebabkan oleh penyakit diabetes yang diderita selama 5 tahun, namun hubungan genetik juga sebagai salah satu penyebabnya," ucapnya.
Program ini sebagai bentuk kepedulian RS Cicendo untuk terwujudnya program penurunan angka kebutaan sekitar 25 persen sebagaimana target nasional karena Indonesia termasuk angka tertinggi ke-2 penderita katarak.
"80 persen dari 9 ribu orang buta bisa dikembalikan penglihatannya. Dengan pengangkatan lensa dan diganti dengan lensa mata baru buatan manusia, semoga program ini dapat terwujud dan terlaksana secara lancar agar target nasional tercapai," ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak