Perkembangan keuangan syariah di Jawa Barat melambat


Kuliah Umum Rosmaya Hadi
Bandung.merdeka.com - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kantor Provinsi Jawa Barat, Rosmaya Hadi, mengatakan kondisi perkembangan keuangan syariah di Jawa Barat hingga saat ini masih cenderung melambat. Meski begitu, perkembangannya masih lebih baik dibandingkan dengan kondisi nasional.
"Contohnya saja pada kondisi perbankan umum syariah di Jawa Barat, pertumbuhan pembiayaan cenderung melambat," ujar Rosmaya kepada Merdeka Bandung saat ditemui dalam acara kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN), Jalan A.H. Nasution, Selasa (8/11).
Rosmaya menjabarkan, hingga triwulan III 2016, pertumbuhan pembiayaan syariah di Jawa Barat berada diangka 6,9 persen (yoy) dengan nominal outstanding sebesar Rp 29,5 triliun. Share pembiayaan syariah Jabar terhadap total pembiayaan syariah nasional sebesar 12,5 persen.
"Adapun share pembiayaan syariah Jabar terhadap total kredit perbankan Jabar sebesar 8,3 persen. Berdasarkan distribusi jenis kegiatannya, pembiayaan syariah di Jabar, 48 persen untuk kegiatan konsumsi, 35 persen untuk pembentukan modal kerja usaha dan 17 persen untuk kegiatan investasi," katanya.
Sementara itu, Rosmaya menjabarkan, aset perbankan umum syariah di Jawa Barat pada triwulan III 2016 tumbuh 12,6 persen (yoy) melambat dibandingkan triwulan II 2016 sebesar 13,5 persen (yoy). Untuk DPK perbankan umum syariah di Jabar pada triwulan III 2016 tumbuh 15,2 persen (yoy) melambat dibanding triwulan II 2016 sebesar 16,4 persen (yoy).
Memahami kondisi dinamika perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia tersebut, lanjutnya, dimana Indonesia memiliki banyak potensi besar untuk dikembangkan namun kondisi terkini memperlihatkan terjadinya perlambatan pertumbuhan pada kinerja keuangan syariah di Indonesia.
Terkait dengan perkembangan sistem ekonomi dan keuangan syariah secara nasional, Indonesia memiliki prestasi. Menurut data Islamic Banking Conference (WIBC), 2015, Indonesia pada tahun 2015 berada di posisi pertama terbesar global dalam indikator pertumbuhan aset perbankan syariah dengan rata-rata pertumbuhan dari tahun 2009 sampai dengan 2013 sebesar 43 persen.
Menggarap potensi zakat dan wakaf
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah, ada tiga tahapan upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia, yakni Tahap Membangun Fondasi Akselerasi Pengembangan untuk periode 2015 hingga 2018, Tahap Memperkuat Strategi dan Program Pengembangan untuk periode 2019 hingga 2021, dan Tahap Implementasi secara Nasional untuk periode 2022 hingga 2024.
"Sebagai salah satu fokus pengembangan adalah bagaimana kita dapat menghubungkan sektor keuangan sosial syariah yaitu zakat dan wakaf dan sektor keuangan komersil syariah yaitu perbankan syariah, BMT, dan lainnya, melalui program-program pemberdayaan yang bertujuan untuk mengatasi ketimpangan ekonomi," ujar Rosmaya.
Bagaimana zakat dan wakaf dapat dialokasikan pada sektor-sektor produksi sehingga mampu menghasilkan multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
"Sebagai upaya mendukung tecapainya visi Indonesia sebagai kiblat ekonomi dan keuangan syariah regional, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat mencoba berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai stakeholders ekonomi syariah di Jawa Barat untuk mewujudkan 'Jawa Barat sebagai Poros Pendidikan Ekonomi dan Keuangan Syariah Nasional'," ujarnya.
Pada 2016, Program PUSPA (Pendampingan UMKM Syariah oleh Praktisi dan Akademisi) telah kembali dilaksanakan dengan perluasan program. Jumlah mahasiswa pendamping program PUSPA ditingkatkan dari 30 mahasiswa pada 2015 menjadi 120 mahasiswa pada 2016 ini.
Waktu pendampingan juga ditingkatkan dari satu bulan menjadi dua bulan. Jumlah UMKM yang didampingi juga meningkat dari 20 pelaku usaha menjadi 40 pelaku usaha. Jumlah kampus yang terlibat juga bertambah dari tiga kampus pada 2015 menjadi enam kampus pada 2016.
Selama rentang waktu dua bulan lebih tersebut, para mahasiswa telah berusaha dengan baik menjalankan proses pendampingan yang meliputi aspek antara lain, mengusahakan internalisasi pemahaman kepada pelaku usaha mengenai karakteristik UMKM Syariah dan etika bisnis dalam Islam.
Kemudian juga meliputi aspek memberikan bimbingan dan arahan dalam memperbaiki teknik produksi, manajemen pemasaran, penatausahaan bisnis UMKM dengan memperkenalkan pembukuan keuangan, SOP, business plan, dan perancangan strategi bisnis yang sistematis.
Serta, memperkenalkan dan memberikan pemahaman mengenai produk dan jasa pembiayaan syariah untuk pengembangan usaha, dan mencoba melakukan advokasi pengajuan pembiayaan syariah kepada Baznas Jabar.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak