Pemkot Bandung diminta buat induk drainase atasi masalah banjir

Banjir Kota Bandung
Bandung.merdeka.com - Anggota Komisi C DPRD Kota Bandung Folmer Siswanto mengusulkan kepada Pemkot Bandung untuk membuat kajian tentang Rencana Induk Drainase Kota. Rencana induk ini merupakan upaya penanganan jangka panjang yang harus dilakukan Pemkot untuk menuntaskan masalah drainase di Kota Bandung, termasuk banjir.
"Saya sudah mengusulkan setahun yang lalu kepada Pemkot Bandung untuk membuat kajian baru tentang rencana induk drainase kota. Rencana induk jadi tidak berbicara sepotong-sepotong, tapi berbicara satu Kota Bandung," ujar Folmer saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Rabu (26/10).
Folmer menuturkan, hingga saat ini Pemkot Bandung belum memiliki kajian khusus untuk memetakan permasalahan banjir di Kota Bandung. "Dulu sebetulnya peta itu sudah ada tapi kan zaman Belanda. Sekarang yang baru artinya benar-benar update per lima tahun lah, misalkan gitu. Ya kita belum punya," kata anggota dewan dari fraksi PDIP ini.
Dia pun agak menyangsikan dengan upaya Pemkot Bandung dalam merevitalisasi gorong-gorong di Kota Bandung dapat menuntaskan banjir. Sebab gorong-gorong yang dipasang tidak berdasarkan kajian yang dilakukan sebelumnya.
"Sekarang apakah bisa dipastikan gorong-gorong yang ada sekarang dengan dimensi itu hasil kajian? kan harus ada kajian. Ukuran itu menentukan daya tampung kan? apakah ada kajian bahwa benar jalan ini harus menggunakan gotong-gorong berukuran satu meter, dua meter, tiga meter? kan harus ada. Kalau kita mengganti yang tadinya dicor dengan gorong-gorong sudah jadi, itu kan hanya merubah teknologi saja, tidak mengukur kapasitas daya tampung," katanya.
Untuk itu pihaknya akan terus mendorong Pemkot Bandung segera membuat rencana induk drainase kota. "Saya tidak menyebut pembangunan yang sekarang asal-asalan, hanya penanganan kurang komprehensif karena tidak berdasarkan basis data yang up to date, data yang valid. Artinya udah benar, saya setuju drainase di Kota Bandung ini tidak lagi menggunakan pola terbuka. Karena kalau terbuka potensi orang membuang sampah lebih besar. Sekarang kan sudah pakai pola tertutup, tentu kalau pakai pola tertutup dimensinya harus diperbesar," kata Folmer.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak