Warga mengeluh Macet, Ridwan Kamil : Sekali-kali naik kendaraan umum

Ridwan Kamil
Bandung.merdeka.com - Kemacetan menjadi masalah yang kerap dikeluhkan masyarakat perkotaan. Banyaknya kendaraan pribadi menjadi salah satu faktor kemacetan di kota besar.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, kemacetan yang dikeluhkan justru diciptakan dari para pengguna jalan sendiri. Masyarakat masih enggan menggunakan transportasi umum dan memilih kendaraan pribadi.
"Iya hasil kajiannya juga banyak komplain macet tapi rata-rata nyetir sendiri di mobil jumlahnya banyak dan itu 80 persen yang seliweran di mobil dan motor," kata pria yang akrab disapa Emil, Selasa (11/10).
Emil mengimbau masyarakat untuk beralih ke angkutan umum. Bukan hanya sebatas mengeluh tapi nyatanya masih menyumbang kemacetan. "Artinya itu fakta bahwa kalau mau Bandung berkurang macetnya 'mbok' ya sekali-kali merubah polanya seperti wali kotanya naik kendaraan umum, naik sepeda atau berjalan kaki," kata Emil.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Didi Ruswandi mengatakan untuk menuntaskan masalah kemacetan secara teori ada dua pendekatan yang dilakukan. Pendekatan pertama yakni dengan memperbesar supply seperti melebarkan jalan, membuat jalan baru, membuat over pass atau under pass dan manajemen demand
Didi menjelaskan, untuk opsi yang pertama, pendekatan ini sangat mahal dan pada akhirnya akan macet lagi karena pertumbuhan kendaraan akan selalu tinggi. Menurut dia, pendekatan ini sudah tidak menjadi prioritas di belahan dunia mana pun.
"Peningkatan supply dilakukan tapi bukan prioritas pertama. Pendekatan ini adalah pendekatan pro kendaraan pribadi sehingga harus disertai dengan kebijakan menyediakan kantung-kantung parkir. Sering juga disebut kebijakan Kota untuk Kendaraan," katanya
Sementara untuk opsi kedua, manajeman demand artinya demandnya yang dikelola. Menurut Didi, penyelesaian substansial dari kemacetan adalah kebijakan pro kendaraan umum dan menghambat kendaraan pribadi.
"Bila ada 50 orang menggunakan mobil pribadi maka panjang jalan yang dibutuhkan adalah 150 meter. Bandingkan bila 50 orang tesebut menggunakan bis, panjang jalan yang dibutuhkan hanya 6 meter saja. Dengan kebijakan pro kendaraan umum maka kita juga tidak memerlukan lagi kantung-kantung parkir yang banyak. Itulah semangatnya program Jumat ngangkot yang kita gagas, walaupun kita masih membutuhkan kebijakan lain pro kendaraan umum," ujar Didi.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak