Program edukasi 'Youth Sociopreneur Initiative' memupuk jiwa wirausaha

Oleh Endang Saputra pada 22 Juli 2018, 14:20 WIB

Bandung.merdeka.com - Siswa-siswi dari lima SMA/SMAK di Bandung dan Bandung Barat bersaing menunjukkan kepiawaian berbisnis pada Regional Student Company Competition 2018 yang diselenggarakan oleh Prestasi Junior Indonesia (PJI) bersama Citi Indonesia (Citibank). Bandung menjadi salah satu kota dari enam kota di Indonesia yang menjadi bagian dalam program ini.

Dalam kompetisi kewirausahaan ini. para siswa mempresentasikan pencapaian bisnis dari usaha mikro yang dijalankan di sekolahnya serta memamerkan produk inovasi andalan usaha mereka. Kelima sekolah tersebut antara lain SMAN 1 Cisarua. SMAN 5 Bandung. SMAN 11 Bandung. SMKN 1 Bandung, dan SMKN 4 Padalarang.
Sebelum tahap kompetisi ini para siswa telah dibina menjadi wirausaha sungguhan melalui program pendidikan aplikasi kewirausahaan perusahaan Siswa (Student Company). Selama enam bulan, mereka mendirikan dan mengoperasikan sebuah usaha mikro di sekolah, mulai dari menciptakan ide produk, merencanakan strategi bisnis, melakukan penjualan produk, hingga likuidasi perusahaan. Siswa-siswi ini juga telah mendapatkan bimbingan bisnis secara Intensif dari mentor PJI dan profesional bisnis Citi Indonesia yang tergabung dalam Citi Volunteers.

"Kita perlu melatih dan merangsang potensi kewirausahaan anak muda sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa SMA dan SMK perlu didorong untuk dapat menciptakan bisnis dengan keterampilan yang dimiliki pasca lulus sekolah. Program Student Company ini memberikan dasar-dasar bisnis kepada siswa melalui pembelajaran dan pengalaman secara langsung. Citi Indonesia bersama PJI terus berkomitmen untuk mampersiapkan generasi muda Indonesia mewujudkan potensi bisnis mereka dan meraih masa depan yang lebih baik," ujar Robert Gardiner, Management Advisor Prestasi Junior Indonesia kepada awak media di Atrium Braga Citywalk, Jalan Braga, Kota Bandung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program edukasi ‘Youth Sociopreneur Initiative' yang digagas oleh PJI bersama Citi Indonesia dan telah memasuki tahun implementasi keempat. Sejak 2014. yang didukung pendanaan dari Citi Foundation ini telah berhasil memberikan dampak positif bagi 37.797 siswa dari 112 SMA/SMK di 6 kota Indonesia. yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Denpasar dan Medan. Melalui program edukasi ini. Prestasi Junior Indoneska bersama Cito Indonesia berupaya mengasah potensi kewirausahaan dan mendorong generasi muda Indonesia menjadi wirausaha yang tumbuh sukses secara Individu sekaligus memberlkan dampak positif ekonomi kepada komunitas di sekitar mereka.

Sementara itu, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia, Elvera N. Makki mengatakan bahwa generasi muda berhak mamperoleh kesempatan ekonomi tidak hanya di ibukota tetapi juga di kota-kota besar lainnya, seperti Bandung dan Bandung Barat.

"Kami percaya bahwa kesempatan dan pengalaman berwirausaha yang diberikan bagi murid-murid SMA/SMK dalam program ini akan membantu kesuksesan mereka di masa depan, tidak hanya dari sisi pengetahuan bisnis tetapi juga dalam hal literasi dan inklusi keuangan," kata dia.

Dalam program Student Company ini para siswa dibagi menjadi lima divisi layaknya sebuah perusahaan sungguhan yaitu production, marketing, finance, human resources, dan public relation. Selain itu mereka juga memegang jabatan masing masing mulai dari president director, vice president, manager hingga Staff. Model pembelajaran ini dikembangkan juga untuk memberikan keterampilan kesiapan kerja bagi para siswa.

Sekolah yang juga ikut dalam kompetisi dan pameran Prestasi Junior Indonesia ini adalah siswa-siswa dari SMAN 1 Cisarua. Tergabung dalam student company, siswa-siswi kelas XI ini menciptakan produk bernama Powerwood.

Salah seorang siswa, Dewi Hajar menuturkan Powerwood menjadi produk unggulan yang memanfaatkan limbah media tanam jamur untuk menjadi hiasan dan pot tanaman. Ide produk ini berawal dari kondisi di lingkungan sekitarnya yang banyak petani jamur.

"Di Cisarua banyak limbah media tanam jamur. Biasanya kan dibuat dari semacam bubuk kayu yang ketika sudah panen biasanya dibuang begitu saja. Makanya untuk mengurangi populasi sampahnya tercetus ide untuk dimanfaatkan jadi barang lagi," ujar Dewi.

Limbah jamur ini dibentuk menjadi pot tanaman juga hiasan dinding. Dengan bahan sederhana dihasilkan karya unik nan cantik dan harga ekonomis. Pot yang dibuat juga bisa sebagai tempat menanam tumbuhan. Dengan bahan yang berasal dari limbah jamur, ia mengklaim tanaman bisa lebih subur tanpa harus menggunakan pupuk. Meski masih bersekolah, ia sudah sangat tertarik menjadi wirausahawan muda.

"Awalnya memang karena melihat masalah di daerah kami sendiri kami ingin memberdayakan sumber yang ada. Selain itu kami ingin membangun bisnis dan wirausaha di Indonesia yang memang peesentasenya masih sedikit," ucapnya.

Sementara sekolah lainnya yakni SMKN 4 Padalarang juga menciptakan produk unik untuk dijual. Dengan produk bernama Ti4n (Teenager Inovantion For Nepal), diciptakan suvenir unik berupa tanaman hias. Yang membedakan ialah media tanam yang digunakan, yaitu menggunakan agar-agar yang biasa dibuat untuk makanan.

Salah seorang siswa, Ayuni Triastuti mengatakan dia bersama teman-temanya menciptakan produk unik yang lain dari biasanya. Suvenir dianggap masih menjadi barang yang dicari konsumen. Alhasil produk yang diberi nama Minni Unique (Miu) ini lahir dari para wirausahawan muda yang sekolahnya terletak di kawasan Padalarang tersebut.

"Awalnya memang diarahin sama guru pembimbing. Kebetulan di sekolah ada jurusan pertanian. Dan memang jadinya unik kita bikin suvenir tanaman asli yang jadi hiasan dengan media tanam dari agar-agar," kata Ayu.

Ayu dan kawan-kawan memilih tanaman anggrek dan pisang yang ditaruh dalam wadah berbagai ukuran. Mulai dari plastik, botol plastik kecil hingga gelas kaca. Dengan hiasan berbagai warna yang membuat tampilannya unik dan menarik untuk hiasan juga gantungan kunci.

Ia menuturkan proses pembuatannya dimulai dengan membuat media tanam dari agar-agar yang dimasak dan diberi vitamin tanaman sebagai nutrisi. Kemudian bibit tanaman yang ditaruh diatasnya sehingga bisa tumbuh.
Menurut dia, butuh waktu dua minggu sampai batang dan daunnya keluar.

Dengan harga relatif murah yakni Rp 10 ribu hingga Rp 13.500, mereka menyasar produknya untuk konsumen yang ingin memberikan suvenir dalam suatu acara. Ataupun kepada anak-anak sekolah untuk membeli gantungan kunci. Tak hanya dijual di sekolah, produk ini juga dipasarkan melalui jejaring media sosial secara online.

"Alhamdulillah di sekolah sangat mendukung kegiatan wirausaha ini, ada student company juga jadi kita banyak belajar bagaimana wirausaha, bagaimana caranya bisnis, jualan, pemasaran dan banyak hal lainya," ungkap siswa kelas XI ini.

Kelima sekolah bersaing memperebutkan gelar 'The Best Student Company In Bandung' dalam kompetisi ini. Satu sekolah terbaik akan mewakili Jawa Barat untuk borsaing dengan sekolah-sekolah dari regional lainnya dalam kompetisi bisnis tingkat nasional yakni Indonesia Student Company Competition 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 11 Agustus 2018 mendatang.

Â