Ciptakan alat pengolah air laut jadi air bersih, 2 mahasiswi ITB juara 1 karya CHAIN

Oleh Mohammad Taufik pada 15 Oktober 2017, 09:52 WIB

Bandung.merdeka.com - Dua mahasiswi program studi Teknik Kimia ITB, Vania E. Krisnandika dan Mey Shelly Rikin berhasil membuat inovasi alat pengolah air bersih, yakni alat Distilasi Membran. Dengan alat ini bisa mengubah air laut yang tercemar atau kotor menjadi air bersih.

Alat ini sangat berguna bagi mereka yang hidup di pesisir pantai yang kerap kesulitan mendapatkan air bersih lantaran air pantainya sering tercemar. Vania menuturkan, jika umumnya alat pengolah air menjadi bersih menggunakan teknologi refuse osmosis, namun tidak dengan alat mereka.

Seperti diketahui, alat refuse osmosis, menurut Vania memiliki kendala tersendiri. Selain cara pembuatannya yang cukup ribet, komponen alat-alatnya pun terbilang mahal. Tak hanya itu, pada refuse osmosis, dibutuhkan kondisi temperatur dan tekanan yang tinggi. Hal tersebut dinilai akan menyulitkan warga biasa untuk membuat alat semacam ini.

"Lain dengan alat yang kami buat yakni alat pembersih air dengan teknologi Distilasi Membran. Pada alat ini, komponen yang dibutuhkan pun mudah didapatkan secara umum, cara pembuatannya sederhana, harga komponennya tidak terlalu mahal, dan tidak membutuhkan temperatur atau tekanan yang tinggi. Sehingga setiap rumah tangga biasa pun bisa dengan mudah membuatnya," ujar Vania

Ia menambahkan, alat ini memiliki desain sederhana sehingga mudah dibuat. Selain itu, kapasitas air bersih yang bisa dihasilkan melalui alat ini sekitar 220 liter per hari.

Alat ini diikutsertakan dalam sebuah kompetisi tahunan bergengsi yakni Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, Chemical Engineering in Action (CHAIN), yang berlangsung pada 14-17 September 2017 lalu, di Universitas Syiah Kuala Aceh. Dalam kompetisi yang baru diikutinya pertama kali ini, Vania dan rekannya Mey mengaku bahwa sempat bingung ini membuat inovasi semacam apa.

"Dari bebeapa tema spesifik, kami mengambil tema green technology, karena ini berkaitan dengan lingkungan juga," katanya.

Sekitar 60 tim berlaga dalam kompetisi tersebut. Untuk sampai pada akhirnya menjuarai kompetisi ini, Vania dan Mey berhasil melewati beberapa tahapan seleksi, mulai dari seleksi akstrak, seleksi karya tulis ilmiahnya, hingga presentasi.