Pameran tunggal lukisan abstrak Tri Sapta Anggoro hadir di Bandung
Lukisan abstrak karya Tri Sapta Anggoro
Bandung.merdeka.com - Perupa dari Komunitas Sahabat Rumah Sembilan A Cibubur, Tri Sapta Anggoro menggelar pameran lukisan tunggal. Mengusung tema 'Memoar-o-rama', perupa memilih Thee Huis Gallery, Kota Bandung, sebagai tempat menampilkan karya lukisnya.
Ada sekitar 42 karya tunggal yang akan mejeng dalam pameran yang digelar 10-17 September 2016 ini. Ke-42 lukisan abstrak itu disuguhkan dalam ukuran media kecil dan besar. Adapun kurator dipilih yakni Dida Ibrahim.
"Ini semua adalah catatan kecil dari saya yang saya dapatkan dari laboratorium pribadi saya yakni kebun pribadi saya," kata Tri Sapta Anggoro disela-sela pameran lukisan tunggalnya, Minggu (11/9).
Dia beralasan memilih aliran abstrak dalam pameran lukisan tunggal tersebut. Menurut dia, aliran abstrak membuat dirinya lebih nyaman dan bebas dalam meluapkan pemikiran di atas sebuah kanvas.
"Realitis (aliran) saya juga masih suka tapi kalau bermain di realitis itu dia berusaha meniru persis tapi berbeda sekali ketika kita bermain di abstrak. Jadi ketika saya melukiskan berdasarkan rasa, misalnya sebuah gambar semangka, saya tidak akan menggambarkan buahnya tapi manisnya buah tersebut," ujar Tri Sapto yang pernah menggelar pameran Seni (3) Zaman di Affordable Art Fair, Singapura pada 2011 silam.
Sejak dibukanya pameran lukisan, yang cukup menarik perhatian pengunjung adalah "Garden of Sense" yakni sebuah lukisan tentang refleksi percikan air yang dilukisakan di atas kanvas dengan dominasi warna cokelat dan kuning.
Dida Ibrahim menuturkan dalam kurun waktu terakhir, selain berkarya waktu luang Tri Sapta Anggoro yang digunakan untuk bercocok tanam sederhana di rumahnya. Hubungan antara bercocok tanam dengan karya Sapta tersebut ialah representasi dari kuasirealitas karena pengalaman yang dihadirkan dalam lukisannya tersebut berasal dari hal bersifat kebendaan.
"Realiasi inilah yang dikemas dalam perspektif kurasi pameran 'Memoar-o-rama' yang mencoba untuk membaca kembali penggalan jejak pengalaman atau kisah terbentas luas sebuah panorama memoar," ucapnya.
Sekilas karya-karya yang dihasilkan oleh Sapta seperti telah melalui proses penyaringan optis dan di awal mata pengunjung seperti diajak terlebih dahulu mengenai wujud.
"Kemudian wujud yang berhasil diterjemahkan akan merayu ingatan kita yentang satu atau beberapa hal. Disadari atau tidak karya-karya Sapta telah menggambarkan kisah dirinya dengan alam, menghadirkan ketaksadaran hubungan semua antara pengalaman dengan realitas," katanya.
SnackVideo Cari Duta Batik Guna Mengangkat Warisan Budaya Indonesia
Tim ahli sebut ada 5 kriteria bangunan yang termasuk dalam cagar budaya
Kecintaannya terhadap seni Sunda membuat Jimbot bisa tampil di London
Lukisan karya pelukis senior hadir di The Trans Luxury Hotel
Paula Modersohn-Becker, wanita pertama melukis dirinya bugil nongol di Google Doodle
Diskusi seru soal perfilman bareng Garin Nugroho di tengah hujan deras
Dewa Bujana dan Eva Celia tampil bareng di panggung jazz TPJBF
Salamander Big Band bakal gelar konser Minggu depan
Disbudpar kolaborasi dengan seniman akan gelar Seni Bandung
Konsistensi Saung Angklung Udjo dalam hajatan Angklung Pride 6