Sekarang Cihampelas masih jadi tempat Raja Jeans?


Bandung.merdeka.com - Burlianto, 43 tahun, sibuk di balik mesin jahitnya. Kurang dari 10 menit sebuah kaos berkerah selesai ia kecilkan. Ia kembali mengambil kemeja dewasa, mengukur dan memberi tanda, mesin jahit kembali bekerja.
Begitu pekerjaan Pak Bur, demikian ia biasa disapa, tiap harinya di sebuah emper toko Jalan Cihampelas, pusat celana jeans di Bandung. Tak terasa sudah 15 tahun pria asli Palembang ini menjadi tukang vermaks.
Ia bersyukur dari hasil menjahit bisa menyekolahkan dua anaknya, yang kecil duduk di bangku SD dan yang besar di SMP. Ia bercita-cita menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.
Selain itu, dari hasil menjahit pula ia bisa membeli rumah sendiri di daerah Karangtineung, kemudian membeli sebuah rumah lagi di kawasan Pelesiran kini ia kontrakkan. Untuk saat ini, bisa membeli rumah di Kota Bandung sangat sulit mengingat harganya selangit.
Sekarang rumah pada mahal, apalagi di dalam kota, ujar pria berkacamata ini. Ia mengaku rata-rata penghasilannya Rp 100 ribu perhari.
Ia beruntung hidup di masa Bandung masih belum sepadat saat ini. Dulu, kata dia, pada pertengahan 90-an Cihampelas masih menjadi satu-satunya pusat jeans paling lengkap dan murah. Semua pembeli tumplek ke jalan yang dijuluki raja jeans tersebut.
"Kalau sekarang sih jumlah pembelinya berkurang, tempat belanja di Bandung sekarang sudah banyak," kata Burlianto.
Kendati demikian, Cihampelas masih menjadi pusat belanja tujuan, julukan pusat jeans masih melekat. Terutama pada akhir pekan atau liburan, jalan ini masih dikunjungi turis lokal maupun mancanegara.
Pria ramah ini mulai merantau ke Bandung pada 1992. Tidak langsung menjahit, ia diajak saudaranya bekerja di toko jeans dengan gaji Rp 70 ribu perbulan. Pulang ke Palembang hanya setahun sekali.
Ia merasa, uang akan sulit terkumpul jika hanya mengandalkan kerja di orang lain. Ia pun memutuskan berwiraswasta dengan membuka jasa menjahit. "Kalau kerja terus mah saya bakal sulit beli rumah," katanya.
Ia cukup hafal dengan perkembangan Cihampelas. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu, pohon-pohon masih rindang, suasana sejuk. Jumlah bangunan pun tidak serapat saat ini.
Sekarang Bandung terasa panas, mungkin sudah banyak bangunan kali yah. Dulu di sini masih dingin sekali, kata pria yang sudah mengaku Bandung sebagai kampung halamannya, terlebih istrinya asli Bandung.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak