Bagi Asita, promosi wisata berlian tak seperti makan cabai

user
Farah Fuadona 23 Juli 2017, 18:39 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Indo Wisata Permata (IWP) sebagai tempat wisata anyar yang menonjolkan berlian sebagai dagangannya menjadi  hal yang cukup sulit untuk masuk bagi kalangan wisatawan nusantara. Dibutuhkan promosi besar-besaran dari pihak IWP agar tempat wisata yang ada di Kawasan Dago tersebut semakin diminati oleh para wisatawan.

Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Asnawi Bahar mengatakan, melakukan promosi tempat wisata berlian tak seperti menyantap cabai yang pedasnya langsung terasa. Dibutuhkan promosi panjang, besar, dan tentu saja berani.

"Memang tidak bisa seperti makan cabai yang langsung terasa pedas. Kalau tempat wisata permata ini promosinya harus besar-besaran dan terus menerus. Tidak bisa melakukan sekali promosi langsung ingin terasa dampaknya, sulit," ujar Asnawi kepada Merdeka Bandung saat ditemui di IWP, kemarin.

Kehadiran IWP sendiri bagi ASITA merupakan upaya untuk menumbuhkan dan melengkapi tempat wisata yang ada di Bandung. Selama ini Bandung dikenal memiliki panorama wisata alam yang memukau. Ditambah kehadiran IWP ini melengkapi tempat wisata buatan.

Selama ini tak bisa dipungkiri jika wisata buatan di Bandung lebih banyak diwilayah Lembang. Kini IWP hadir di Kawasan Dago sebagai tempat wisata anyar yang memberikan pengalaman berbeda bagi siapa saja yang datang ke sana.

"IWP ini seperti chef, kita harus mampu meramunya menjadi destinasi baru yang belum pernah ada dan tentunya menarik. Di indonesia selain di Martapura yang dikelola secara tradisional, ya IWP ini yang menjadi tempat wisata batu permata. Walaupun memang eksklusif tidak semua market bisa dijual. Segmennya menengah ke atas," jelasnya.

Untuk membuat tempat wisata ini dikenal, lanjutnya, tentu saja dibutuhkan konsistensi karena tentu saja ini tidak akan mudah mengingat pasar yang dibidiknya begitu segmented. Meskipun sebenarnya tidak harus membeli, bisa saja wisatawan datang untuk melihat proses pembentukan berlian hingga menjadi perhiasan.

"Orang kita duitnya banyak. Kami dari ASITA membantu untuk promosi di mancanegara meskipun fokusnya masih di Asia," tuturnya.

Kredit

Bagikan