Pengusaha muda Jabar belajar skill dari organisasi bisnis asal Belanda

user
Mohammad Taufik 01 November 2016, 10:25 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Selain modal, kebanyakan pengusaha muda di Indonesia dihadapkan dengan sebuah masalah klasik yakni, minim pengetahuan, pengalaman dan skill. Banyak mereka yang memutuskan terjun membuka usaha, tapi akhirnya tumbang juga.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Barat tak ingin generasi pengusaha patah arang, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kerja lagi dengan orang lain. Salah satunya menjalin kerja sama dengan organisasi bisnis asal Belanda, Project Uitzending Manager (PUM).

Ketua HIPMI Jabar Jodi Janitra, mengatakan saat ini anggotanya tersebar di seluruh daerah di Jabar yakni dua ribu pengusaha. Sekitar 80 persennya merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM).

"Semua anggota Hipmi, nanti bisa mendapatkan konsultasi dari PUM. Kami, ingin mereka bisa mengakselerasi bisnisnya masing-masing," kata Jodi di Bandung, Senin (31/10).

PUM sendiri namanya sudah dikenal di beberapa negara belahan dunia. Lembaga non profit ini kerap memberikan bantuan konsultasi dan pembinaan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Atas dasar itulah HIPMI Jabar menggandeng PUM karena pengalaman dalam memberikan bantuan pengetahuan pada seluruh UKM di dunia. PUM sendiri, memiliki 3 ribu ahli di bidang bisnis.

"PUM telah membantu 47 ribu UKM di dunia. Salah satunya, Indonesia yang jadi prioritas mereka," katanya.

Menurut Jodi, konsultan bisnis dibutuhkan bagi semua anggota HIPMI Jabar untuk menyiapkan persaingan global. Sebagai pengusaha kuliner, sebelum menjadi anggota HIPMI, perusahaannya pun pernah di bimbing oleh PUM Belanda. "Jadi PUM ini, kinerja mirip seperti konsultan," katanya.

Dari hasil konsultasi tersebut, kata dia, sebesar 40 persen produktivitas perusahaannya naik. Padahal, tanpa ada investasi mesin. "Jadi bimbingan yang dilakukan PUM adalah mengubah cara berpikir, alat dan kemasan," katanya.

Jika ini berhasil bisa saja pola kerja sama di Jabar akan jadi pilot project nasional. "Jadi, kerja samanya bisa langsung dengan pusat dan bisa diterapkan se-nasional," terangnya.

Senior Experts PUM, Jos Dorrestjin, menyatakan akan menjalin kerja sama dengan HIPMI Jabar minimal dalam kurun waktu tiga tahun. Adapun target per tahunnya yakni membimbing 150 proyek pertahunnya. "Ini program gratis, karena di subsidi oleh Kementerian Perekonomian Belanda," katanya.

Setiap proyek bimbingan UKM, kata dia, dana yang dialokasikan sebesar Rp 60 juta. Namun, biasanya kalau pelatihan benar-benar digratiskan, UKM tak memiliki tanggung jawab. "Jadi, UKM yang membiayai akomodasi. Programnya gratis kami yang membiayai," ujarnya.

Kredit

Bagikan