Ini 4 isu strategis pembangunan daya saing Jawa Barat


Ilustrasi program Bank Indonesia
Bandung.merdeka.com - Setidaknya terdapat empat isu strategis dalam upaya pembangunan daya saing di Jawa Barat. Dalam isu strategis tersebut juga dibutuhkan beragam kebijakan sebagai pendukung adanya isu strategis dalam upaya pembangunan daya saing.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Rosmaya Hadi, mengatakan isu pertama hadir dari struktur ekonomi Jawa Barat yang telah bertransformasi tanpa menjaga pertumbuhan produktivitas sektoral.
"Dibutuhkan kebijakan untuk peningkatan produktivitas tenaga kerja yang tumbuh tidak lebih dari 3 persen dibandingkan dengan China mencapai kisaran 6-7 persen," ujar Rosmaya kepada Merdeka Bandung, Senin (5/9).
Isu kedua, konsentrasi pembangunan pada beberapa kabupaten atau kota belum memunculkan efek sebar pada kemajuan daerah sekitarnya. Infrastruktur jalan tol mendorong penyebaran penumbuhan daya saing ke daerah yang dilalui melalui aglomerasi.
Isu ketiga, yakni tumpuan industri unggulan Jawa Barat belum berubah selama lima tahun ini, yaitu industri barang jadi dari logam termasuk kendaraan bermotor, industri kimia dan bahan dari kimia, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri makanan minuman.
"Industri unggulan yang pertama menyerap PMA/PMDN terbesar 30 persen dan menyumbang ekspor terbesar Jawa Barat terbesar 34 persen. Melihat potensi sumberdaya dan pasar seharusnya layak dikembangkan produk unggulan baru berbasis agro dengan skala ekonomis yang terus meningkat," katanya.
Isu strategis keempat atau terakhir adalah kemampuan membangun daya saing pada kebanyakan kabupaten masih rendah diindikasi oleh aliran investasi yang kecil dan penciptaan nilai tambah yang terbatas.
Solusinya dibangun penciptaan rantai value atau value chain melibatkan beberapa industri atau sektor dan lintas kabupaten atau kota dengan sasaran pertumbuhan produktivitas serta pencapaian skala dan skop ekonomis.
Dibutuhkan mutu SDM, inovasi, skema pembiayaan industri unggulan, konektivitas dan kolaborasi atau kerja sama. Skema pembiayaan rantai pasok untuk jejaring bisnis termasuk skala UKM, melibatkan penghasil atau pemasok bahan baku, pengolah dan distributor.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak