Potensi sektor perikanan di Indonesia capai Rp 1,2 Triliun Dollar

Rokhmin Dahuri
Bandung.merdeka.com - Kekayaan laut Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Potensi ekonomi laut di Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 triliun dolar per tahun.
Hal ini diungkapkan Guru Besar Fakuktas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Prof.Dr. Rokhmin Dahuri MS dalam acara kuliah umum bertajuk 'Membangun Seltor Perikanam dan Kelautan di era Globalisasi' yang digelar Di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Sabtu (19/3).
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Era Presiden Megawati ini menuturkan 75 persen wilayah Indonesia yang didominasi oleh laut, membuat potensi kekayaan di Indonesia sangat besar. Dia menyebut ada 11 sektor ekonomi kelautan yang menjadi penyumbang potensi ekonomi. Adapun 11 sektor tersebut yakni perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pariwisata bahari, kehutanan pesisir, transportasi laut, industri dan jasa maritim, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, dan sumber daya alam (SDA) non-konvensional.
"Jika ditotalkan potensi ekonomi dari 11 sektor ekonomi kelautan ini diperkirakan mencapai 1,2 triliun dolar," ujar Rokhmin.
Dia mengatakan, potensi perikanan Indonesia merupakan salah satu yang besar di dunia. Dia memperkirakan, produksi perikanan di Indonesia mencapai 65 juta ton per tahun. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan China yang hanya 60 juta ton.
"Berbicara potensi di seluruh dunia mungkin kita paling besar. Tapi itu baru potensi," katanya.
Dengan potensi itu lanjut Rokhmin, sudah saatnya pemerintah memanfaatkan secara lestari. Menurut dia,
ekpansi usaha prioritas perikanan di Indonesia harus berada di sektor perikanan budidaya, jangan lagi berada di sektor perikanan tangkap.
"Perikanan tangkap sudah hampir jenuh sudah 78 persen tingkat kemanfaatannya. Kalau di perikanan budidaya laut kan baru 10 persen, di tambak baru 25 persen dan, air tawar 40 persen. Orang kan maunya 90 persen di penangkapan. Untuk di penangkapan seharusnya lebih banyak ke aspek pengendalian, supaya menyeimbangkan," ungkapnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak