Digelarannya yang ke 25, pengadilan musik adili Down for Life

Pengadilan Musik
Bandung.merdeka.com - Pengadilan Musik yang ke 25 digelar semalam, Jumat (14/9). Kali ini, giliran band cadas asal Solo yang menjadi tersangka yaitu Down For Life. Lewat acara rutin bulanan yang kerap diselenggarakan di Kantin Nation The Panas Dalam itu, Down For Life mengisahkan perjalanan karier mereka di dunia musik dalam balutan suasana pengadilan yang santai namun kental unsur komedi.
Pengadilan Musik merupakan program istimewa yang diselenggarakan oleh DjarumCoklatDotCom (DCDC). Program ini diadakan dalam rangka merespon aktivitas penggiat musik independen Indonesia yang makin aktif dan masif hari ini. Dalam format persidangan, Down For Life menjadi tersangka dan didakwa oleh perangkat persidangan.
Pengadilan Musik kali ini dipimpin oleh seorang hakim, yaitu Man Jasad. Mereka diperkarakan oleh dua jaksa penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq. Di sisi yang meringankan, Down For Life dibantu oleh dua orang pembela, yaitu Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Jalannya persidangan dipandu oleh seorang panitera, yaitu Eddi Brokoli.
"Ini adalah Pengadilan Musik ke 25 dan ini merupakan acara reguler setiap bulannya. Pengadilan Musik ini menjadi sesuatu yang baru ya untuk sebuah band memaparkan perjalanan kariernya dengan konsep pengadilan. Kalau di sini, banyak yang ngantri untuk menjadi terdakwa atau tersangka," ujar Perwakilan dari DCDC, Agus Dhanny Hartono kepada Merdeka Bandung, Jumat (14/9) malam.
Dimulai pukul 20.00 WIB, band yang dibentuk sejak awal tahun 2000 itu memaparkan perjalanan karier mereka di jagad musik ekstrim. Ketertarikan pada musik cadas menjadi latar belakang Adjie (vokal), Achenk (drum), Jojo (bass) dan Imam (gitar) untuk membentuk satu unit metal atau hardcore di kota Solo, Jawa Tengah.
Mereka menamai entitasnya dengan nama Down For Life. Pengalaman dari masing-masing personil yang sempat terlibat di band ekstrim sebelum akhirnya membentuk Down For Life membuat mereka cenderung lebih matang secara materi dan lebih siap secara mental. Meski begitu, dinamika dalam sebuah band tidak bisa dielak.
Down For Life sempat mengalami beberapa kali perubahan personil karena berbagai alasan. Adjie dan Jojo menjadi dua personil yang bertahan. Tetapi, itu tak menjadi halangan untuk Down For Life tetap berkarya. Dengan formasi termutakhir kali ini, yaitu Adjie (vokal), Jojo (bass), Rio (gitar), Isa (gitar) dan Latief (drum), mereka menjadi salah satu band ‘keras’ yang paling diperhitungkan, bahkan di Indonesia.
"Kami memulai perjalanan ditahun 2000. Kami manggung pertama kali di Solo. Saat itu kami berpikir akan memainkan musik apa ya, terpilihlah hardcore,” tutur salah seorang punggawa Down For Life, Adjie.
Hampir dua dekade berada di ranah musik independen, Down For Life sudah merilis dua buah album penuh bertitel Simponi Kebisingan Babi Neraka (2007, Belukar Records) dan Himne Perang Akhir Pekan (2013, Sepsis Records). Karya-karya mereka mendapat respon yang positif, terbukti dari terpilihnya album mereka dalam jajaran album terbaik versi beberapa majalah besar tanah air.
Selain dari media, mereka juga mendapat apresiasi luar biasa dari para Pasukan Babi Neraka. Pasukan Babi Neraka adalah panggilan untuk para penggemar mereka. Pada awalnya, predikat ini ditujukan pada Down For Life sendiri, berangkat dari definisi 'babi' sebagai binatang yang dianggap menjijikan, serakah, kotor bahkan dianggap haram tapi dagingnya disukai karena kelezatannya.
Paradigma ini dianggap menarik dan sejalan dengan Down For Life, karena tidak sedikit orang yang menyukai musik Down For Life tapi di waktu yang sama juga mungkin dibenci karena kebisingannya. Pencapaian terbesar Down For Life diraih di tahun 2018, ketika mereka berhasil terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang Wacken Metal Battle Indonesia 2018. Mereka berhasil menyingkirkan lebih dari 300 band dalam negeri dan merebut satu tiket menuju Jerman.
Keberhasilan mereka mengantongi suara terbanyak dari juri mengantarkan mereka ke panggung perdana di Eropa, yaitu Wacken Open Air 2018, salah satu festival heavy metal terbesar di dunia. Mereka bertempur di Wacken Metal Battle, Jerman pada tanggal 1 Agustus 2018. Atas nama Indonesia, mereka berjuang melawan 27 negara lain dari seluruh dunia.
Agresivitas musik dan kepiawaian mereka dalam menggeber lagu demi lagu mendapatkan sorotan dari metalheads maupun para juri. Down For Life menduduki peringkat 13 dari total 28 band, dan ini merupakan prestasi yang patut dihargai.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak