Beras ikut andil pemberi inflasi tinggi Jawa Barat

user
Muhammad Hasits 17 Desember 2016, 11:08 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Rosmaya Hadi menjelaskan, terdapat 13 komoditas yang merupakan komponen volatile foods dengan beras sebagai komoditas paling sering menjadi pemberi andil inflasi.

"Sebagai makanan utama masyarakat Indonesia, beras menjadi komiditi paling sering pemberi inflasi khususnya di Jawa Barat," ujar Rosmaya kepada Merdeka Bandung saat ditemui dalam acara "High Level Meeting FKPI dan TPID se-Jawa Barat", Jumat (16/12).

Rosmaya menjelaskan, inflasi kumulatif Jawa Barat sampai dengan bulan November 2016 tercatat sebesar 2,39% (ytd) berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,59% (ytd). Sementara pada periode sama tahun sebelumnya inflasi Jawa Barat hanya sebesar 2,37%.

Namun demikian, inflasi Jawa Barat masih merupakan tertinggi apabila dibandingkan dengan pairing-nya di Pulau Jawa. Inflasi terendah di Pulau Jawa ditorehkan Provinsi DI Yogyakarta dengan inflasi sebesar 1,93 % (ytd), disusul oleh DKI Jakarta dan Jawa Tengah dengan inflasi sebesar 2,09% (ytd).

"Faktor yang mendorong inflasi selama 2016 terutama masih berasal dari volatile foods seperti cabai merah, beras, dan bawang merah. Sementara itu, komoditas yang termasuk core inflation (inti) dan administered prices relatif terkendali," jelasnya.

Selama bulan November 2016, dari tujuh kota yang dihitung inflasinya di Jawa Barat, inflasi Kota Bogor tercatat paling tinggi yakni sebesar 3,43% (ytd), sementara yang terendah dibukukan Kota Cirebon dengan inflasi sebesar 1,81% (ytd).

Dengan menganalisa kondisi terkini dan juga historis inflasi bulan Desember di Jawa Barat, inflasi akhir tahun 2016 diperkirakan berada pada kisaran 4 ± 1% (yoy).

"Beberapa faktor yang menjadi pendorong inflasi di akhir tahun terutama faktor musiman seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal serta liburan Tahun Baru," ujarnya.

Namun demikian, pencapain inflasi tahun 2016 ini diyakini dalam batas bawah target inflasi nasional 4 ± 1% (yoy).

Sementara Forum Koordinasi Pengendali Inflasi (FKPI) Provinsi Jawa Barat telah menyusun Roadmap Pengendalian Inflasi berdasarkan target pencapaian enam permasalahan utama. Adapun permasalahan utama tersebut diantaranya terkait Sumber Daya Manusia, infrastruktur dan logistik, konektivitas, kelembagaan, tata niaga, dan teknologi.

"Dalam rangka memecahkan permasalahan tersebut, pada tahun 2016, program kerja FKPI Provinsi Jawa Barat Proper Kahiji Utama difokuskan pada beberapa hal," ujar Dewan Pengarah FKPI Jabar, Rosmaya Hadi.

Upaya yang dilakukan FKPI Jabar adalah peningkatan produksi komoditas melalui peningkatan produksi hortikultura di Jawa Barat, dan antisipasi lonjakan permintaan melalui Program Peningkatan Ketahanan Pangan. Kemudian revitalisasi pasar melalui program peningkatan dan pengembangan sistem perdagangan dalam negeri, serta penyusunan kajian pendukung pengendalian Inflasi melalui neraca perdagangan antar daerah.

"Selanjutnya adalah peningkatan kualitas infrastruktur melalui program pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan, dan peningkatan jaringan konektivitas melalui program peningkatan iklim, promosi dan kerjasama investasi," jelasnya.

Ada beberapa program kerja strategis lain yang diyakini mampu memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian inflasi tahun 2016. Adapun program-program kerja strategis yang dihelat FKPI Jabar diantaranya adalah Capacity Building FKPI dan TPID se-Jawa Barat yang Building bertujuan dalam upaya menyatukan persepsi dan memastikan pemahaman tetap sejalan baik terhadap inflasi dan permasalahannya.

"Nantinya diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang tepat dalam upaya pengendalian inflasi," imbuhnya.

Kredit

Bagikan