Bakteri pendeteksi kanker hati bermanfaat bagi pertanian

Tim IGEM ITB
Bandung.merdeka.com - Biosensor Aflatoxin diharapkan bermanfaat bagi sektor pertanian. Sejauh ini produk kacang-kacangan seperti padi, jagung, kacang di Indonesia dideteksi dengan peralatan mahal. Tidak jarang banyak produk pertanian yang tidak terdeteksi. “Penelitian ini diharapkan bisa menghindari Aflatoxin yang merupakan penyebab kanker hati,” kata peneliti Biosensor Aflatoksin ITB, Ari Dwijayanti, kepada Merdeka Bandung, Rabu (6/1).
Perempuan yang S1 dan S2-nya diraih di ITB ini mengatakan, kacang-kacangan yang mengandung aflatoksin tidak boleh lagi dikonsumsi. Akumulasi aflatoksin dalam tubuh manusia dapat memicu terjadinya kanker hati.
Biosensor aflatoksin, kata dia, dibuat dengan pendekatan ilmu biologi sintetis, ilmu yang sudah berkembang pesat di luar negeri namun relatif baru di Indonesia.
Tim meneliti dan merekayasa bakteri E coli. Produk penelitiannya disebut Biosensor Aflatoksin yang berisi bakteri pendeteksi Aflatoksin. Biosensor tersebut ditransfer lewat suntikan ke sampel penelitian, yakni kacang-kacangan yang sebelumnya dimasukan ke dalam wadah yang sudah diberi larutan.
“Setelah disuntik, sampel normal akan berwarna kuning keruh. Sedangkan sampel yang mengandung aflatoksin akan berwarna hijau. Makin hijau sampelnya makin tinggi kandungan aflatoksinnya,” terangnya.
Ari menambahkan, cara kerja biosensor dirancang sederhana untuk memudahkan petani dalam pengoperasiannya. Sebab, penelitian sendiri berprinsip mempermudah mendeteksi aflatoksin.
“Kita desain semudah mungkin. Hasilnya juga bisa dilihat kasat mata. Jadi tidak perlu alat canggih dan rumit,” katanya.
Penelitian ini bukan untuk membunuh jamur penyebab munculnya Aflatoksin, melainkan untuk mendeteksi saja. Sehingga penelitian ini secara tidak langsung memberikan tantangan pada ilmu teknologi pascapanen agar mampu mengelola hasil panen.
“Ilmu teknologi pascapanen harus meneliti bagaimana supaya kacang-kacangan tersebut tidak ditumbuhi jamur Aflatoksin,” katanya.
Dengan kata lain, penelitian teknologi pertanian membutuhkan kerja sama dari berbagai disiplin ilmu. Penelitian aflatoksin sendiri dilakukan tim yang terdiri dari mahasiswa berbagai disiplin ilmu.
Mereka adalah Ari Dwijayanti yang saat ini menempuh program doktor Sintetis Biologi di Imperial College London, Inggris, Dimas Dwi Adiguna (Teknik Kimia), Nuke Ayu Febriana (Mikrobiologi), Indra Rudiansyah (Rekayasa Hayati) dan Riandy Rahman N. (Teknik Informatika) dengan dosen pembimbing dari Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB, Maelita Ramdani M dan Sony Suhandono.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak