Karinding alat musik pengusir hama hingga pemikat wanita

Bandung.merdeka.com - Jawa Barat (tatar Sunda) sangat kaya dengan beragam jenis kesenian tradisional. Mulai dari seni tari hingga alat musik lahir di sini, karinding salah satunya. Alat musik ini telah digunakan oleh karuhun (leluhur) masyarakat Sunda sejak zaman dulu.
Konon kabarnya alat musik ini berusia lebih tua dari alat musik gamelan. Beberapa literatur sejarah menyebutkan keberadaan alat musik ini telah ada sejak permulaan awal masa sejarah Sunda, yakni saat mulai ditemukannya sumber-sumber tulisan pada masa kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4 Masehi.
Karinding sendiri dibuat dari pelepah kawung (pohon aren) atau bisa juga dibuat dari bambu. Untuk karinding yang terbuat dari bambu, bentuknya sedikit lebih kecil dan memanjang menyerupai susuk sanggul dan kebanyakan pengguna alat musik ini adalah perempuan. Sementara untuk karinding yang terbuat dari pelepah kawung bentuknya lebih pendek agar mudah disimpan pada tempat tembakau dan banyak digunakan oleh pria.
Alat musik ini dibuat menjadi tiga bagian, yaitu bagian tempat memegang karinding (pancepengan). Jarum tempat keluarnya nada disebut cecet ucing atau ekor kucing. Serta pembatas jarumnya dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul).
Cara memainkan alat musik ini yaitu dengan menempelkan bagian tengah di depan mulut yang sedikit terbuka. Lalu bagian pemukul di sebelah kanan disentil dengan jari hingga bagian jarum bergetar. Getaran itulah yang menghasilkan bunyi-bunyian diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi serta tutup buka kerongkongan atau embusan dan tarikan napas.
Salah seorang pelestari alat musik karinding, Endang Sugriwa, menuturkan awalnya karinding digunakan oleh masyarakat pertanian untuk mengusir sepi. Sembari menunggu ladangnya yang berada di hutan mereka biasa memainkan karinding. Namun selain itu, karinding berfungsi sebagai pengusir hama. Bunyi khas dari alat musik ini ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang mampu membuat hama menjauhi ladang.
Menurut keterangan orang tua dulu, karinding itu jadi ciri khas masyarakat tatar Sunda. " Awalnya karinding digunakan sebagai alat penghibur diri sendiri oleh masyarakat yang sebagian besar petani. Lalu oleh pemiliknya kadang dibawa ke sawah. Maklum orang petani suka kelelahan sambil memainkan alat musik karinding ternyata hama-hama di ladang lari setelah mendengar suara karinding, dianggap sebagai alat pengusir hama, " kata pria yang akrab disapa Bah Olot kepada Merdeka.com saat ditemui di tempat workshop karinding di Dusun Parakan Muncang, Desa Cimanggung Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang, belum lama ini.
Pada perkembangannya karinding tidak hanya digunakan untuk kepentingan berladang tetapi juga dimainkan dalam ritual atau upacara adat. Bahkan di kalangan pemuda, karinding populer sebagai alat musik untuk menarik lawan jenis. Jika sang pria berkunjung ke rumah wanita, maka pria itu akan memainkan alat musik karinding untuk memikat sang pujaan hati.
"Kalau sudah dibawa ke kampung atau ke rumah suka dipakai ritual, jika terjadi gerhana bulan karinding dimainkan. Selain itu, juga dipakai saat hajatan yang sifatnya kecil-kecilan seperti syukuran kalo hasil panen meningkat, khitanan,dan lain sebagainya, " ujar Bah Olot.
Memasuki pertengahan tahun 2000an alat musik tradisional ini perlahan mulai bangkit. Tahun 2008 alat musik ini menjadi magnet baru, terutama kalangan anak muda. Salah satu yang menggerakkan yakni hadirnya grup musik Karinding Attack yang digawangi para pionir dari komunitas metal Ujung Berung Rebels.
Sejak saat itu, karinding terus dipertunjukkan dalam berbagai kesempatan acara musik-musik underground. Hingga akhirnya terus berkembang dan menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Lembang, Subang Ciwidey, Cianjur, Garut, dan lainnya.
Tak hanya di Jawa Barat di setiap pergelaran musik metal alat musik karinding menjadi bagian yang terpisahkan. Hingga saat ini musik karinding sering dikolaborasikan dengan berbagai jenis aliran musik.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak