Persembahan khusus batik edisi PON dari Azizah d'Nyonyah

Oleh Farah Fuadona pada 27 September 2016, 13:05 WIB

Bandung.merdeka.com - Meramaikan Pekan Olahraga Nasional(PON) XIX 2016 Jawa Barat, Azizah d'Nyonyah meluncurkan produk batik khusus. Batik khusus yang diluncurkannya itu diberi title 'Prodo'.

Azizah Talita Dewi, desainer sekaligus sang empunya Azizah d'Nyonyah mengaku bila batik khusus buatannya ini. Ada enam lembar kain yang keseluruhannya memiliki karakteristik berbeda. Masing-masing dari kain batik buatannya memiliki pesan tersendiri.

"Tentu saja berbeda karena saya mendesain dan mengaplikasikannya dengan metode batik tulis. Sebagai karya yang dibuat secara telaten, tentu hasil dari setiap helai kainnya tidak akan sama," ujar Azizah kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Trans Studio Mall Bandung, belum lama ini.

Batik 'Prodo' yang dibuatnya ini merupakan hasil dari akulturasi nasional. Sehingga tak ada identitas batik Sunda, Jawa ataupun lainnya. Menurut Azizah, semua motif batik itu indah maka tak heran jika ia memadupadankan beragam motif batik pada setiap hasil karyanya.

"Saya mencoba membuat bagaimana batik bisa menjadi sebuah nilai budaya yang membangkitkan jiwa kebangsaan. Terlebih dengan momen PON ini adalah momen yang istimewa. Ada ciri khas beberapa daerah yang masuk dalam satu kain, sama halnya dengan PON yang diikuti oleh berbagai daerah di Indonesia," jelasnya.

Jadi 'Prodo' yang dipersembahkan khusus untuk momen PON ini mengangkat keindahan alam Indonesia yang kaya akan emas. Maka tak heran jika kemewahan akan terasa dari batik 'Prodo' ini.

Sementara itu, bicara soal harga batik yang khusus dibuatnya hanya enam lembar itu memiliki nilai yang cukup fantastis. Meski begitu, kata Azizah batik bukan hanya soal nilai rupiah melainkan karya yang harus dihargai.

"Harganya Rp 10 juta ke atas ya, soalnya saya bukan hanya jual selembar kain melainkan sebuah proses. Di mana para pengrajin batik itu melakukan setiap prosesnya dengan sangat teliti hingga menghasilkan semua karya yang patut dihargai," kata dia.