Penyiar radio diusulkan minimal memiliki jenjang pendidikan Strata-1
Diskusi penyiar radio
Bandung.merdeka.com - Penyiar radio merupakan ujung tombak lembaga penyiaran radio. Kata-kata pernyiar radio dalam siarannya didengar publik. Maka penyiar pun berperan penting dalam pendidikan publik. Maka muncul tuntutan profesionalitas penyiar, termasuk latar belakang pendidikannya. Agar profesional, penyiar radio diusulkan harus memiliki pendidikan dengan latar belakang S1.
Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Universitas Islam Bandung (Unisba) bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesa Daerah (KPID) Jawa Barat, di Bandung, Kamis (16/6). FGD ini dihadiri sejumlah penyiar radio di Bandung.
Â
Pemimpin Redaksi PRFM, Basith Patria, mengatakan saat ini pekerjaan penyiar radio sebagai profesi yang terbuka. Artinya boleh dikerjakan oleh orang dengan berbagai latar belakang pendidikan termasuk SMA. Namun ia setuju jika penyiar radio dijadikan profesi tertutup.
Â
âJika penyiar radio menjadi profesi tertutup tentu lebih bagus lagi, agar lebih ideal. Saya sepakat kalau penyiar dari ilmu komunikasi, jadi akan linear dengan latar belakang pendidikannya, sehingga greatnya lebih tinggi lagi,â kata Basith.
Â
Berbeda dengan Basith, penyiar dari Radio Thomson Bandung, Yanti Rangkuti, tidak setuju jika penyiar radio dijadikan profesi tertutup dan latar pendidikannya harus S1.
âSaya pilih SMA karena berdasarkan pengalaman saya yang penting attitude dan kejiwaan. Kalau disamaratakan harus S1 kasihan yang SMA dan yang punya attitude dan kejiwaannya yang bagus,â tandas Yanti.
Komisioner KPID Jawa Barat Mahi M Hikmat mengatakan, penyiar memang berperan sentral dalam lembaga penyiaran radio. Tidak ada radio tanpa penyiar. âMengenai trust, penyiar kan paling depan, bahkan menjadi guru publik. Kalau guru atau dosen kan ngajar hanya di kelas saja. Beda dengan penyiar yang pendengarnya banyak sehingga wajar pendidikannya dipersoalkan,â kata Mahi yang juga Koordinator Bidang Isi Siaran KPID Jabar.
Contohnya, kata dia, jika seorang penyiar membicarakan topik tertentu, publik akan mengaitkan latar belakang pendidikan penyiar dengan topik itu. Dari situ kepercayaan pada penyiar atau radio bisa dipertaruhkan.
Saat ini salah satu yang perlu dilakukan radio untuk meningkatkan profesionalitas penyiarnya adalah dengan memberikan pelatihan. âKalau tak didapat di bangku kuliah karena background-nya bukan Ilmu Komunikasi maka harus ada pelatihan berbagai aspek,â katanya.
Ia menambahkan, KPI pusat memiliki program pelatihan P3SPS diantaranya untuk para penyiar radio. Ia berharap program pelatihan tersebut bisa digelar KPID Jawa Barat.
Tag Terkait
LPDP Lakukan Transplantasi Karang dan Pemberdayaan Masyarakat
Novo Nordisk Indonesia Menerapkan Pendekatan Holistik
Kepengurusan IESPA 2021-2026 Baru Siap Dorong Jutaan Gamers Jawa Barat
SimpleDesa dari SVN di KBB Beri Kemudahan Bagi Kepala Desa
Segudang Manfaat Elok Terasa di Desa Wisata Stone Garden
Tahun Ini, Sertifikasi Gratis TKDN dari Kemenprin Telah Lampaui Target
Jelang KTT G20 2022, Sebuah Dialog Digelar Guna Membangun Kolaborasi
384 Pembalap Ramaikan Teras Caf 1st Series di Lembang
Karier.mu dan Kartu Prakerja Bantu Asah Kompetensi Diri
Donatur Loyal Rumah Zakat Bisa Dapat Happiness Card, Ini Keuntungannya