Telkomsel Ajak Pengusaha Muda Berbisnis dengan Memanfaatkan Dunia Digital

Oleh Endang Saputra pada 29 Oktober 2020, 16:25 WIB

Bandung.merdeka.com - Pandemi covid-19 membuat berbagai aspek kehidupan manusia berubah, termasuk bisnis. Para pengusaha muda yang merintis bisnis diarahkan untuk memanfaatkan dunia digital.

Hal ini menjadi bahan obrolan seru dalam kegiatan website seminar (webinar) Digital Creative Millenials (DCM) 2020 bertajuk 'Pentingnya Transformasi Digital untuk Strategi Bisnis Online' yang digagas Telkomsel. PT Telkomsel mengajak para milenial di Indonesia memulai bisnis dengan memanfaatkan dunia digital. Dalam acara tersebut dihadiri sejumlah pembicara ternama dari kalangan pengusaha, juga entertainer. Di antaranya, salah satu pionir industri clothing di Indonesia yang membangun brand Unkl347 Dendy Darman, dua sahabat pemilik brand Cotton Ink Carline Darjanto dan Ria Sarwono, juga penyiar radio dan Co-Owner Lawless Gofar Hilman.

Dalam sambutannya, VP Corporate Communication PT Telkomsel Deni Abidin mengatakan bahwa semangat acara DCM 2020 ini karena kondisi ekonomi tanah air yang terimbas Covid-19. Dia mengharapkan DCM 2020 dapat menstimulasi para pengusaha muda, khususnya yang baru merintis bisnisnya, agar semakin yakin dan memiliki komitmen meskipun dunia tengah diguncang pandemi.

Menurut Deni, pandemi ini memaksa semua sektor bertahan dengan cara beradaptasi. Di lini bisnis, cara beradaptasi di era ini yang dinilai efektif yakni bertransformasi ke ranah digital. Telkomsel pun membuka ruang kolaborasi agar para pengusaha dapat memanfaatkan konsep transformasi digital. Selain lewat sejumlah program Telkomsel, dorongan itu distimulasikan dalam webinar yang mengundang para praktisi dunia usaha digital.

"Harapannya kita punya mimpi yang besar, kita bergandengan tangan, kita sama-sama wujudkan mimpi yang besar ini, karena tidak ada yang impossible kalau kita bersama-sama," katanya dalam keterangan tertulisnya.

Founder brand Unkl347, Dendy Darman mengatakan, sejak 2 tahun terakhir, Unkl347 mulai mencoba memanfaatkan platform digital guna memasarkan produknya. Namun sejak masa pandemi, cara berjualan dengan pola ini terbilang paling efektif. Meski berjualan produk secara online dinilainya mengurangi engagement atau keterikatan antara ritel dengan pelanggan, namun pasarnya lebih luas.

"Sejujurnya kita dapat feedback kebutuhan lapangan. Contohnya, kalau zaman dulu itu sepertinya (inovasi produk) bakal laku, padahal yang sukanya itu ritel, tidak langsung end user. Sekarang itu end user yang beli, jadi kita punya data yang tepat, kayak item ini bener-bener disukai," katanya.

"Sekarang semenjak pandemi, sudah lebih besar online, persentasinya (market) udah berubah karena memang culture berubah, orang tidak ketemu orang," sambung dia.

Pemilik brand Cotton Ink Ria Sarwono mengungkapkan, pihaknya memanfaatkan penjualan online sejak awal. Sehingga bisnisnya kian besar sejak didirikan pada 2008. Alasannya pun sederhana saat bisnis ini dimulai.

"Kita enggak punya uang banyak untuk memulai dari offline dan awalnya cuma berdua. Karena (online) ini lebih murah," kata Ria Sarwono.

Menurutnya pula, bisnis online jauh dapat menjangkau pelanggan. Ini yang membuat bisnis Cotton Ink terus berjalan. Seiring itu toko offline dapat dibuka hingga Cotton Ink mempunyai lima toko offline yang tersebar di sejumlah daerah Indonesia.

Terkait pandemi Covid-19, Cotton Ink pun merasakan pembeli yang datang lebih banyak dari penjualan online meski secara offline toko tetap menghasilkan untung. "Kebetulan udah buka toko kelima, udah miriplah (hasil penjualan) online dan offline. Tapi kalau sekarang jauh, karena customer lebih pilih belanja online, karena ada Covid-19," sambung Carline Darjanto.

Sementara itu, Co-Owner Lawless Gofar Hilman, mengatakan, dirinya menjalankan usaha Lawless tidak melupakan unsur penting lainnya dalam berbisnis, yakni komunitas. Dirinya memanfaatkan komunitas untuk membuat brand Lawless makin tersohor.

"Jadi paling beres di dunia industri yang sangat banyak pesaingnya itu adalah membangun fanbase. Ya jangan itungan tahun, bulan, atau hari lah, itungan jam aja tren orang bisa berubah. Ketika tren berubah drastis, ada dua pilihan, kita ikutin tren atau ciptain pasar, itu yang dilakukan Lawless dari awal. Jadi fanbase ini gunanya ketika tren berganti, si orang-orang ini tetap stay dan beli produk kita," katanya.

Gofar pun memandang apa yang hendak dilakukan seorang pengusaha, harus didasari kepentingan branding. Cara ini seperti dilakoninya di dunia media sosial sehingga meraup pamor seperti sekarang.