IMA ajukan satu zona waktu demi sebuah perubahan besar
Indonesia Marketing Association
Bandung.merdeka.com - Indonesia Marketing Association (IMA) melakukan kajian dan sosialisasi Indonesia Satu Zona Waktu. Kajian ini rencananya akan diajukan kepada pemerintah sebagai upaya untuk melakukan perbaikan dari berbagai aspek. Adanya usulan ini sebagai visi negara modern yang efisien sejak tahun 2005 hingga tahun 2014.
Pakar Marketing dan Founder IMA, Hermawan Kartajaya mengatakan, hadirnya usulan satu zona waktu itu sebagai upaya kenusaan dan kebangsaan semakin kuat. Dengan adanya zona satu waktu ini sebagai upaya mempersiapkan Indonesia pada generasi 4.0.
"Deklarasi hari ini akan kami sampaikan ke pemerintah. Dengan adanya zona satu waktu ini tentunya akan meningkatkan daya saing ekonomi, politik, dan budaya," ujar Hermawan kepada Merdeka Bandung saat ditemui dalam acara di Gedung Indonesia Menggugat, Minggu (28/10).
Untuk perubahan zona waktu, Indonesia sejak Merdeka di tahun 1945 telah melakukan perubahan zona waktu tiga kali. Dua perubahan pertama dilakukan di masa Presiden Soekrno, di tahun 1950 dan 1963, dan satu perubahan lainnya dilakukan di masa Presiden Soeharto di tahun 1987.
Upaya perubahan zona waktu yang terakhir bahkan meluas ke upaya penetapan satu zona waktu di kawasan ASEAN di tahun 1995 hingga 1996. Dengan kata lain, perubahan zona waktu yang berdampak luar biasa itu bukan merupakan suatu hal yang luar biasa.
Selama tiga kali perubahan zona waktu, bisa dikatakan berlangsung dengan lancar. Begitu lancar prosesnya, sampai berita perubahan zona waktu dimasa lalu tidaj mendapatkan pemberitahuan yang luas.
Sementara itu, sosiolog sekaligus dosen tetap fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo mengatakan, satu zona waktu ini merupakan sebuah lompatan besar namun gratis yang diharapkan bisa disetujui oleh pihak pemerintah.
"Nyatanya begini, antara Barat, Tengah, dan Timur di Indonesia ini memiliki ketimpangan yang kalau mereka berhubungan khususnya untuk urusan ekonomi ini akan sangat sulit. Perbedaan waktu membuat waktu tidak efisien. Bila Indonesia memiliki satu zona waktu tentu akan memperlancar berbagai urusan," katanya.
Tag Terkait
LPDP Lakukan Transplantasi Karang dan Pemberdayaan Masyarakat
Novo Nordisk Indonesia Menerapkan Pendekatan Holistik
Kepengurusan IESPA 2021-2026 Baru Siap Dorong Jutaan Gamers Jawa Barat
SimpleDesa dari SVN di KBB Beri Kemudahan Bagi Kepala Desa
Segudang Manfaat Elok Terasa di Desa Wisata Stone Garden
Tahun Ini, Sertifikasi Gratis TKDN dari Kemenprin Telah Lampaui Target
Jelang KTT G20 2022, Sebuah Dialog Digelar Guna Membangun Kolaborasi
384 Pembalap Ramaikan Teras Caf 1st Series di Lembang
Karier.mu dan Kartu Prakerja Bantu Asah Kompetensi Diri
Donatur Loyal Rumah Zakat Bisa Dapat Happiness Card, Ini Keuntungannya