ITB akui paham radikal sudah masuk kampus

Oleh Endang Saputra pada 06 Juni 2018, 17:16 WIB

Bandung.merdeka.com - Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak menampik jika penyebaran paham radikal mulai masuk ke lingkungan kampus. Hal ini diketahui setelah salah satu organisasi mahasiswa di ITB yakni HATI (Harmoni Amal dan Titian Ilmu) diduga berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Padahal HTI telah resmi dibubarkan oleh Pemerintah.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan ITB menjadi salah satu perguruan tinggi yang diduga terpapar radikalisme. BNPT menyebut ada 7 PTN yang telah disusupi paham radikalisme yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna mengatakan, sebelumnya pihak kampus telah memberikan peringatan kepada organisasi HATI karena sering mengundang tokoh-tokoh HTI. Hasil diskusi dari acara yang mereka selenggarakan bahkan diunggah ke media sosial.

"Organisasi ini sebetulnya sudah dua tahun lalu kami berikan peringatan karena mengundang tokoh-tokoh HTI. (Mereka) diskusi di kampus dan itu kita tegur sudah dua kali mereka mengadakan diskusi itu. Dari hasil diskusi mereka posting di medsos dan memang ada kaitannya dengan aspirasi dari HTI itu (khilafah)," ujar Bermawi kepada wartawan di Gedung Rektorat, Jalan Tamansari, Rabu (6/6).

Bermawi menegaskan, pihak kampus kemudian mengambil langkah tegas dengan membekukan organisasi HATI. Hal ini dilakukan karena peringatan yang telah diberikan tak juga dihiraukan.

"Sehingga kami mengingatkan dan mereka tidak ada perubahan yang signifikan. Nah berapa minggu lalu kami bekukan itu organiasinya," katanya.

Bermawi mengungkapkan, dari catatan pihak kampus organisasi HATI diketahui memiliki anggota sebanyak 59 orang. Organisasi ini telah ada sejak 5 tahun lalu. Para angggotanya berasal dari berbagai disiplin ilmu di ITB. Namun Bermawi menampik jika mahasiswa yang terpapar paham radikalisme sebagian besar merupakan fakultas Eksakta seperti yang disebutkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

"Kalau Saya belum bisa menyimpulkan seperti itu ya. Karena begini, mahasiswa S1 ITB itu ada 15 ribu. Yang menjadi anggota HATI cuma 59 orang.
Dari 59 orang, kalau mereka mengundang tokoh dari luar untuk diskusi itu yang hadir paling 6 sampai 14 orang. Artinya apa memang jumlahnya sedikit dan itu tersebar, ada yang dari jurusan teknik, ada sains dan lainnya. Jadi kami engga berani menyimpulkan yang terpapar itu punya korelasi dengan bidang ilmu tertentu. Jadi barangkali perlu kajian yang seksama," ungkapnya.

Bermawi pun menyebutkan pernah ada mahasiswi ITB yang sempat viral karena mengikuti rapat HTI. Dalam video yang beredar mahasiswi S2 itu terang-terangan mendukung HTI. Namun setelah menyebar luas, dia memahami kesalahannya dan meminta maaf.

"Waktu ada video viral mewacanakan sistem khilafah. Nah itu ada mahasiswi ITB yang diwawancara kemudian videonya viral kemana mana. Mahasiswi itu terkejut kok bisa jadi seperti itu. Akhirnya mahasiswi itu menyadari telah melakukan kesalahan. Dan dia minta maaf ke ITB," ungkapnya.

Kasus lainnya lanjut Bermawi pernah ada juga mahasiswa ITB yang dikabarkan hilang karena mengikuti aliran tertentu. Mahasiswa yang hilang itu akhirnya ditemukan di Garut.

"Tiga tahun lalu jadi enggak jelas organisasi Islamnya apa, yang jelas mahasiwa itu hilang. Ditemukan di garut. Untung pamannya itu polisi. Dengan jejaringnya itu bisa mendapatkan keponakannya. Enggak tahu tuh aliran apa," ucapnya.

Menurut Bermawi, dalam organisasi tersebut, menghalalkan mencuri harta orang tua untuk keperluan organisasi. Selain itu juga tidak membolehkan mahasiswa untuk kuliah.

"Jadi kuliah itu sesuatu hal yang enggak penting. Nah ini kan merusak. Kuliah diangap tidak penting lalu mencuri harta orang tua itu halal. Nah itu merusak. Mahasiswa seperti sudah hilang akal sehatnya. Namun sekarang yang seperti itu sudah lama tidak muncul tapi kami tetap waspada. Ada beberapa yang akhirnya putus studi. Yang saya ingat ada dua putus studi. Itu kejadiannya 5 tahun lalu," paparnya.

Bermawi mengungkapkan, masuknya paham radikalisme ke kampus memang sudah terjadi sejak lama. Hal ini karena tingginya rasa keingintahuan mahasiswa untuk mempelajari aliran agama ataupun studi sosial dan lainnya.

"Iya memang itu sudah berlangsung lama tetapi anak -anak mahasiswa itu kan anak muda mencari sesuatu yg menurut mereka menarik. Tidak lepas dari belajar satu aliran tertentu bisa agama, studi sosial dan lain lain," katanya.

Tag Terkait