Car black box, untuk kendaraan roda empat karya mahasiswa ITB

Oleh Endang Saputra pada 23 Mei 2018, 15:36 WIB

Bandung.merdeka.com - Selama ini istilah black box atau kotak hitam identik dengan pesawat terbang. Perangkat ini menjadi benda yang paling dicari saat pesawat mengalami kecelakaan karena menyimpan data penerbangan.

Namun berbeda dengan black box untuk pesawat terbang, tiga mahasiswa Teknik Elektro ITB yakni Mutia Marwa, Gregorius Henry dan Hans Christian menciptakan Car Back Box. Black box ini khusus diperuntukan untuk kendaraan roda empat.

Karya tiga mahasiwa ini menjadi salah satu karya yang ditampilkan dalam
Acara pameran alat-alat inovasi karya mahasiswa Teknik Elektro bertajuk 'Electrical Engineering Days 2018' yang digelar di Aula Timur ITB dari tanggal 22-24 Mei.

Salah seorang anggota tim, Mutia Marwa mengatakan, alat ini diciptakan dengan latar belakang tingginya angka kecelakaan mobil di Indonesia. Menurut dia, Indonesia saat ini menduduki peringkat lima terbesar sebagai negara penyumbang angka kecelakaan tertinggi di dunia yang mencapai 100 ribu kecelakaan setiap tahun.

"Angka kecelakaan yang cukup tinggi di Indonesia salah satunya disebabkan kesadaran pengemudi mengenai etika berkendara masih rendah. Kemudian pelanggaran lalu lintas kan sebenarnya dapat dibawa ke ranah hukum, namun pembuktian benar salahnya pengguna jalan menjadi sulit dilakukan karena kurangnya barang bukti. Makanya alat ini untuk merekam data-data untuk analisis kecelakaan," ujar Mutia kepada wartawan saat ditemui di stan pemeran.

Secara fisik, wujud car black box berwarna hitam. Hal ini berbeda dengan black box pesawat yang berwarna oranye. Adapun untuk fungsi, Car Blakcbox ini sama dengan kotak hitam pada pesawat.

Kotak hitam ini berfungsi untuk melaporkan rekam jejak terkait kendaraan sebelum terjadinya kecelakaan. Nantinya lewat data tersebut bisa dianalisis penyebab kecelakaan. Hanya saja, pada alat ini tidak dibuat perekam suara dengan pertimbangan privasi karena mobil lebih sering digunakan untuk sehari-hari.

"Alat ini bisa merekam data onboard diagnostik, data akselerasi kendaraannya, lokasi mobil. Kotak hitamnya juga dilengkapi kamera depan dan belakang untuk merekam video.
Jadi misalnya pada kecelakaan ada video yang kelihatan visual siapa nih yang nabrak duluan," ucap mahasiwa Teknik Elektro angkatan 2014 ini.

Seperti halnya pada pesawat, kotak hitam ini juga didesain untuk tahan terhadap benturan, api hingga air. Menurut Mutia, alat ciptaannya memiliki kekuatan tekanan hingga 2300 newton. Kemudian tahan dari api hingga suhu 600 derajat celcius. Selain itu juga tahan air.

Tidak hanya itu alat ini juga memiliki sistem peringatan perilaku berkendara berbentuk lampu indikator seperti lampu traffic light. Lampu berwarna kuning menunjukkan kecepatan kendaraan yang terlalu tinggi. Sementara warna merah akan menyala saat terjadi tabrakan.

"Lampu indikator ini terhubung dengan kotak hitam untuk mendeteksi kondisi kendaraan," ucapnya.

Mutia bersama dua rekannya masih terus melakukan penyempurnakan alat ciptaannya tersebut. Terutama dari pengisian daya.

"Sekarang ini bisa dari aki mobil dan dari baterai. Normal pakai aki mobil, tetapi kalau kendaraannya kecelakaan dan aki mobil mati dia bisa langsung ke batre dengan waktu cuma 30 detik," katanya.

Tag Terkait