Archangel dan SST hadir untuk lindungi data dari hacker
Bandung.merdeka.com - Bagi perusahaan dan pemerintah, bahkan individu sekalipun, keamanan data merupakan salah satu elemen penting yang harus mereka perhatikan agar terjaga kerahasiaannya. Namun demikian, serangan para peretas (hacker) yang selalu bisa menembus pertahanan keamanan data seringkali membuat perusahaan mengalami kerugian miliaran rupiah.
Di level negara, serangan peretas bahkan bisa membuat rahasia negara bocor yang menimbulkan polemik politik dan hubungan antarnegara. Untuk itu, sangat diperlukan inovasi teknnologi untuk menghadapi serangan para peretas ini.
Menyadari akan pentingnya keamanan data internet, PT Sydeco, sebuah perusahaan yang berfokus pada keamanan data dari Yogyakarta, meluncurkan dua teknologi terbaru untuk melindungi data internet Archangel dan Secure System of Transmission yang bekerja secara bersamaan.
"Keunggulan dari kombinasi Archangel dan SST adalah kemampuannya dalam menggunakan machine learning untuk menganalisa berbagai tipe serangan yang terjadi dan menyiapkan pertahanan untuk serangan di saat ini dan masa depan," ujar Patrick HOUYOUX, President Director PT Sydeco dari siaran pers yang diterima Merdeka Bandung, Selasa (3/4).
Dua teknologi ini diciptakan oleh para praktisi IT muda asal Yogyakarta yang memiliki keahlian tinggi di bidang teknologi. Archangel merupakan sebuah SMART BOX yang berfungsi untuk menyaring seluruh lalu lintas data yang akan masuk ke jaringan, baik melalui kabel atau nirkabel.
Setiap data yang diperkirakan jahat akan dicegah untuk masuk. Archangel memiliki fleksibilitas untuk ditempatkan di sisi klien (on-site) atau di penyedia jasa (hosted). Fungsi machine learning yang ada di dalam Archangel memiliki kemampuan untuk menganalisa pola serangan yang belum pernah ada sebelumnya dan mencegah serangan tersebut sebelum masuk ke jaringan.
"Secure System Transmission adalah sebuah sistem keamanan data yang memiliki dua 'agen cerdas' di titik pengirim dan penerima, berfungsi untuk melindungi data, baik secara otomatis maupun on-demand. Agen pengirim akan mengubah data ke dalam gelombang dan warna berbeda-beda bergantung pada isi data tersebut, sementara agen penerima akan mengubah kembali data ke bentuk awal," jelasnya.
Ketika terjadi pencegatan data, atau pengiriman data ke tujuan yang salah, data secara otomatis akan hilang. SST bisa melindungi berbagai bentuk data, termasuk percakapan telepon. Dua teknologi mutakhir ini diciptakan melalui serangkaian riset mendalam dengan meneliti berbagai kasus pencurian dan pembobolan data yang pernah terjadi.
Beberapa kasus tersebut misalnya peretasan terhadap Twitter, Facebook, WhatsApp, Aplle, hingga media internasional seperti The Wall Street Journal dan The Washington Post. Bahkan para peretas berhasil membobol 4,93 juta akun Gmail, 500 juta akun Yahoo, dan 68 juta akun Dropbox.
"Kami saat itu dengan cepat menyadari bahwa dengan semakin tumbuhnya penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari, dan juga di dunia bisnis, serta kemampuan tanpa batas orang-orang jahat untuk menemukan hal-hal baru, keamanan di internet akan menjadi masalah yang sangat penting bagi keamanan transaksi keuangan dan perlindungan data secara umum," katanya.
Â
Tag Terkait
LPDP Lakukan Transplantasi Karang dan Pemberdayaan Masyarakat
Novo Nordisk Indonesia Menerapkan Pendekatan Holistik
Kepengurusan IESPA 2021-2026 Baru Siap Dorong Jutaan Gamers Jawa Barat
SimpleDesa dari SVN di KBB Beri Kemudahan Bagi Kepala Desa
Segudang Manfaat Elok Terasa di Desa Wisata Stone Garden
Tahun Ini, Sertifikasi Gratis TKDN dari Kemenprin Telah Lampaui Target
Jelang KTT G20 2022, Sebuah Dialog Digelar Guna Membangun Kolaborasi
384 Pembalap Ramaikan Teras Caf 1st Series di Lembang
Karier.mu dan Kartu Prakerja Bantu Asah Kompetensi Diri
Donatur Loyal Rumah Zakat Bisa Dapat Happiness Card, Ini Keuntungannya