Asmara Hadi, perintis kemerdekaan yang kritis dan romantis

Oleh Farah Fuadona pada 18 Agustus 2016, 10:06 WIB

Bandung.merdeka.com - Kenal dengan sosok Asmara Hadi? Beliau adalah sosok perintis kemerdekaan RI pada zaman Belanda serta Jepang, orang kepercayaan Bung Karno, seorang jurnalis, dan penyair.

Bagi Anda yang mendalami sejarah, pasti tak asing dengan nama Asmara Hadi. Ya, tentu saja sosoknya begitu dikenal karena beliau merupakan sosok yang tegas, keras, kritis, namun juga romantis.

Seperti diceritakan oleh salah seorang keturunan Asmara Hadi yakni Tito Zeni Asmara Hadi, beliau merupakan perintis kemerdekaan RI yang juga berprofesi sebagai jurnalis dan pujangga.

Dalam kegiatan sastra, Asmara Hadi termasuk dalam angkatan Pujangga Baru bersama dengan Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Moh. Yamin. Ia pernah mengarang buku berjudul "Di Belakang Kawat Berduri",

Buku tersebut merupakan pengalaman hidupnya di dalam tahanan pemerintah Hindia-Belanda. Kumpulan sajaknya dihimpun dan disunting oleh Yunan Nasution dengan judul "Asmara Hadi Penyair Api Nasionalisme" pada tahun 1965.

Dalam bidang jurnalistik, Asmara Hadi pada tahun 1932 hingga 1933 dipercaya sebagai Anggota Staf Redaksi "Fikiran Ra'jat, koran mingguan yang diterbitkan Bung Karno yang kala itu sebagai pemimpin redaksi.

Tahun 1937 hingga 1938 beliau merupakan seorang Pemimpin Redaksi Majalah Pelopor, tahun 1938 hingga 1941 beliau menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tujuan Rakjat dan pembantu tetap Majalah Pudjangga Baru.

Kegiatannya dalam dunia jurnalistik berlanjut hingga tahun 1976 dengan berganti-ganti tempat. Tak hanya disibukkan sebagai pujangga dan jurnalis, Asmara Hadi juga aktif mengikuti beragam kegiatan lainnya.

Pada tahun 1945 beliau merupakan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI), tahun 1950 hingga 1955 menjadi Pemimpin Redaksi Harian Pikiran Rakyat di Bandung dan Redaksi Majalah Nasional di Jakarta.

Kemudian pada tahun 1955 hingga 1959 ia merupakan Anggota Konstituante wakil dari Gerakan Pembela Pancasila (GPPS), pada tahun 1959 hingga 1967 menjadi Ketua Umum Partai Indonesia (Partindo).

Selanjutnya, karier Asmara Hadi semakin gemilang hingga pada akhirnya ia didapuk menjadi wakil ketua DPR-GR merangkap Menteri Negara selama dua tahun dari tahun 1966 hingga 1968.