Nadafiksi tawarkan wajah lain dalam 'Teorema'

Oleh Mohammad Taufik pada 23 Februari 2016, 11:37 WIB

Bandung.merdeka.com - Lewat debut perdananya bertajuk 'Teorema', Nadafiksi hadirkan wajah lain. Melalui Teorema, Nadafiksi dapat ditemui dalam wujud musik full band, Hindustan, keroncong, hingga soundscape.

Menurut Ilmu Pasti, Teorema merupakan pernyataan yang memerlukan pembuktian meskipun pernyataan itu memang dapat ditujukan bernilai benar.

Bisa jadi debut album duo Nadafiksi asal Bandung bertajuk Teorema ini merupakan sebuah pernyataan Dwi Kartika Yuddhaswara dan Ida Ayu Made Paramita Sarasvati yang perlu anda buktikan pengalamannya, meskipun duo yang lahir pada 2010 ini sudah pasti mengalami pengalaman mereka sendiri.

"Teorema adalah album perdana Nadafiksi yang dirilis pada tahun 2016 bersama Omuniuum yang mendukung produksinya," ujar Dwi kepada Merdeka Bandung, Selasa (22/2).

Pengerjaan Teorema sejak rekaman awal hingga hadir lengkap sebagai album musik memerlukan waktu kurang lebih tiga tahun. Tesla Manaf Effendi, yang dikenal sebagai gitaris jazz, bertindak sebagai produser yang juga menangani sendiri segala proses pengambilan dan pengelolaan suara sampai Teorema siap dengar.

"Keragaman ini tak mungkin terwujud tanpa keterlibatan teman-teman pemusik yang melengkapkan Teorema dari berbagai sisi baik musik maupun lirik," ujarnya.

Nama Teorema dipilih untuk menggambarkan isi album sebagai kumpulan lagu, dimana setiap judul memiliki napas tersendiri, disusun dalam suatu struktur yang diharapkan secara simultan memberikan pengalaman tertentu.

Selanjutnya pemaknaan dari pengalaman menyimak Teorema diserahkan kepada asumsi masing-masing penikmatnya.

"Isi Teorema dibagi menjadi tiga bagian yaitu Fantasi, Indrawi dan Ilahi. Pengelompokan dan penamaan setiap bagian berkenaan dengan muasal kepekaan atau bahasan lagu di dalamnya," tuturnya.

Perkenaan ini seperti ketika penyimak Nadafiksi kembali menemui 'Darimu Untukku' sebagai hasil kepekaan Indrawi. Lagu 'Sentuh' yang masuk dalam Nominee Best Folk Track Indonesian Cutting Edge Music Award 2014 bertransformasi menjadi 'Seketika' sebagai catatan pengalaman yang berkaitan dengan Ilahi.

Tag Terkait