Ini cara Ibnu kenalkan budaya menempa logam dari Bandung

Oleh Mohammad Taufik pada 28 Desember 2015, 09:58 WIB

Bandung.merdeka.com - Salah satu stand dalam acara Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2015 di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Kota Bandung, mendadak menjadi pusat perhatian setiap pengunjung. Mereka menyaksikan aksi pria sedang mengukir sebuah pisau berbahan dasar baja.

Dialah Ibnu Pratomo, seorang seniman logam dari Bandung. Dengan menggunakan tatah (alat untuk mengukir) dan vise (alat penjepit besi) Ibnu dengan telaten mengukir setiap detail bagian pisau dengan motif khusus.

"Lagi ngukir pisau bowie dengan motif sulur-suluran. Motif ini merupakan motif yang biasa diukir di keris, tapi saya buat di pisau ini," ujar Ibnu kepada Merdeka Bandung saat ditemui di standnya, Minggu (27/12).

Di stand miliknya itu tampak sejumlah senjata tradisional yang ditata rapi. Mulai dari kujang, pisau hingga pedang. Semua senjata tersebut merupakan buah karyanya bersama Pijar, sebuah komunitas menempa di Bandung.

Ibnu merupakan seorang pembuat senjata tradisional. Dia menjadikan senjata tradisional sebagai tempat untuk berkarya.

Pria kelahiran 18 Desember 1977 ini mengaku mulai tertarik dengan kegiatan menempa logam saat masih kuliah di FSRD ITB pada tahun 1997. Dia mulai membuat beberapa jenis senjata tradisional seperti kujang, pisau dan lain-lain. "Untuk bisa memahaminya, Saya juga mempelajari sejarahnya, filosofisnya," kata Ibnu.

Dalam perkembangan, Ibnu kemudian mulai menggabungkan konsep senjata tradisional dengan desain lebih modern. Dia memberikan corak-corak khusus untuk setiap detail karyanya.

Untuk membuat sebuah senjata tradisional memang bukan perkara mudah. Diperlukan kesabaran dan keuletan untuk menyelesaikan setiap bentuk dari senjata yang dibuat. Untuk itu pula dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuat sebuah senjata.

Untuk membuat satu senjata, Ibnu menargetkan selesai selama beberapa pekan. Namun bisa juga waktu menjadi lebih lama.

"Kalau saya bikin target tiga minggu bisa selesai. Namun bisa juga lama pernah sampai enam bulan. Terkadang Saya juga berhenti jika sudah berada di titik jenuh. Satu sampai dua hari pekerjaan itu bisa ditinggalkan. Itu yang menjadi lebih lama," katanya.

Jika ada yang tertarik dengan karyanya, Ibnu pun rela menjualnya. Karya Ibnu dijual dari mulai harga Rp 1,5 juta sampai paling mahal Rp 50 juta.

"Paling mahal itu sekitar Rp 30 - 50 juta. Itu waktu bikin kujang pesanan kolektor," ungkap lulusan S2 di FSRD ITB angkatan 2005 ini.

Namun demikian, Ibnu mengaku memiliki misi besar dalam ilmu penempaan logam yang dimilikinya. Dia ingin mengedukasi masyarakat dengan menyebarkan kembali kebudayaan penempaan di Indonesia.

"Saya ingin menyebarkan kembali kebudayaan penempaan di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia," ujarnya menegaskan.