Masa depan sepakbola putri cukup menjanjikan bila dilakukan serius

Oleh Farah Fuadona pada 07 Januari 2016, 21:13 WIB

Bandung.merdeka.com - Menjadi pemain sepakbola profesional, tidak mudah untuk dilakukan oleh kaum hawa. Tidak seperti pria, kata pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) Queen, Papat Yunisial, wanita memiliki keterbatasan emosional, salah satunya mengalami siklus bulanan alias menstruasi.

Untuk berkarir dalam olahraga sepakbola, kata Papat, banyak cobaan yang harus dilalui kaum wanita.‎ "Kendalanya itu sangat banyak, karena ada keterbatasan prestasi. Kalau lelaki mungkin di usia 25 lagi bagus-bagusnya, tapi kalau perempuan top performa di umur 16 sampai 20. Karena ada yang menikah dan tuntutan dari orang tua," kata dia.

Beruntung dia memiliki suami yang mendukung. Bagaimana tidak, sang suami, yakni Zulkarnaen Lubis pun yang juga salah satu pelaku sepakbola di tanah air era 80-an.‎ "Dari angkatan saya di timnas saja sekitar tahun 79-80, sekarang hampir 95 persen tenggelam. Karena keterbatasan misalnya suami tak mendukung," katanya.

Selain menjadi kepala sekolah di SSB Queen, Papat juga menjadi dosen di STKIP Pasundan, Cimahi untuk mata kuliah sepakbola Putra dan Putri. Pemegang lisensi kepelatihan C AFC ini juga, menjadi tenaga ahli di PSSI pusat dan membawahi 33 provinsi.

‎Apabila dilakukan dengan serius, kata dia, sebenarnya sepakbola putri pun cukup menjanjikan. Buktinya, kini banyak jebolan SSB Queen yang dilirik berbagai klub profesional.

"Banyak dari mereka yang sudah berpenghasilan. Ada yang jadi pemain nasional, di cabang olah raga futsal juga ada. Bahkan bisa jadi dikontrak tim luar negeri," jelasnya.