1. BANDUNG
  2. PROFIL

Selama 29 tahun, pria ini setia menjaga Situs Penjara Banceuy

"Situs ini kan berada wilayah kita. Malu kalo ada kunjungan, masa tidak peduli," kata Ahmad.

©2016 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Kamis, 10 Desember 2015 15:14

Merdeka.com, Bandung - Situs Penjara Banceuy merupakan salah satu dari banyak tempat bersejarah di Kota Bandung. Situs yang berada di tengah padatnya komplek pertokoan di Jalan Banceuy ini, merupakan
bekas penjara Bapak Pendiri Bangsa, Bung Karno.

Selama hampir 29 tahun sejak tahun 1986, Ahmad (49) dengan setia menjadi penjaga situs sejarah Penjara Banceuy. Masih ingat dalam ingatannya, saat kawasan yang dulunya merupakan komplek penjara ini beralih fungsi menjadi komplek pertokoan Banceuy Permai pada tahun 1986. Hingga kemudian saat ini hanya menyisakan satu sel nomor 5 yang pernah ditempati oleh Sukarno.

"Selama pembangunan komplek pertokoan dari 1983 sampai 1986, Saya jadi security di situ. Setelah pembangunan selesai, Saya yang menjaga situs penjara Sukarno dari tahun 1986 sampai sekarang," ujar Ahmad kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Situs Penjara Banceuy, Jalan Banceuy, Kota Bandung.

Pria asal Kuningan ini menuturkan tugas untuk menjaga situs bersejarah tersebut dilakukannya secara sukarela. Ahmad yang merupakan ketua RT setempat merasa prihatin dengan kondisi Situs Penjara Banceuy, sebab tidak ada yang merawat situs bersejarah tersebut.

"Situs ini kan berada wilayah kita. Malu kalau ada kunjungan, masa tidak peduli. Apalagi pemerintah tidak peduli dengan keberadaan situs ini," kata pria kelahiran 7 Juli 1966 ini.

Untuk merawat situs Penjara Banceuy, Ahmad bahkan harus mencari biaya sendiri. Jika tidak menggunakan uang kas RT, Ahmad bahkan harus menggunakan uang pribadinya.

"Biaya perawatan kan harus ada untuk keperluan beli alat-alat kebersihan dan juga membayar listrik. Karena tidak ada bantuan dari pemerintah, saya nyari sendiri. Apalagi kalau hari-hari bersejarah minimal harus ada pengecatan," katanya.

Janji untuk merenovasi situs penjara Banceuy pun sempat dilontarkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang pada 2013 saat baru aja terpilih menjadi wali kota Bandung.  Saat itu Ahmad masih ingat, Ridwan mendatangi Situs Penjara Banceuy dan menjanjikan untuk merenovasi bangunan bersejarah tersebut dalam program kerja 100 harinya. Namun nyatanya hingga tahun 2014 janji itu belum terealisasi.

Baru pada  24 juli 2014, Situs Penjara Banceuy mulai mendapat perhatian Pemprov Jabar yakni melalui Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT) Disbudpar Provinsi Jabar. Sejak saat itu Ahmad diangkat menjadi juru pelihara situs Lapas Banceuy. Sejak saat itu, Ahmad mendapatkan honor sebesar Rp 750 ribu per bulan.

"Dari situ baru ada perhatian dari pemerintah. Saya mendapat honor Rp 750 ribu, dan itu baru dapat diambil dua bulan sekali. Jadi satu kali ambil dapat Rp 1,5 juta," ucapnya.

Sebagian uang ini lanjut Ahmad dia gunakan untuk merawat situs. Sebab pemerintah sendiri tidak mengalokasikan biaya khusus untuk merawat situs.

"Untuk biaya listrik per bulan Rp 150 ribu ditambah peralatan kebersihan. Minimal Rp 250 ribu untuk pengeluaran per bulan. Karena tidak ada biaya khusus perawatan, Saya keluarkan uang dari honor saya per bulan," ucap Ahmad.

Renovasi secara menyeluruh situs Penjara Banceuy baru dilakukan pada awal awal 2015. Hal itu berkaitan dengan penyelenggaraan acara peringatan HUT ke 60 Konperensi Asia Afrika (KAA) pada April 2015. Ahmad mengaku cukup senang dengan adanya renovasi itu, namun dia cukup menyayangkan kurangnya apresiasi dari pemerintah kota terhadap upaya warga sekitar yang ikut menjaga situs tersebut.

"Gak ada ucapan terima kasih kepada warga masyarakat. Saya dengan warga masyarakat kalau gak peduli mungkin bangunan itu sudah hancur," katanya.

Hampir setiap hari Ahmad menjaga keberadaan situs tersebut. Bahkan dia masih melayani pengunjung yang kerap datang di malam hari. Namun itu semata dia lakukan atas dasar kecintaannya untuk merawat salah satu situs bersejarah di Kota Bandung.

"Kunjungan banyak pas liburan sekolah. Kalau ada donasi diterima, kalau gak juga gak apa-apa. Yang terpenting anak sekolah harus lebih tahu mengenai sejarah," pungkasnya.
    

(FF/DR)
  1. Wisata sejarah
  2. Wisata Budaya
  3. Budayawan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA