Joind Bayuwinanda, sosok di balik teater monolog Tan Malaka

Joind Bayuwinanda (tengah)
Bandung.merdeka.com - Sukses pertunjukkan teater monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah di IFI Bandung. Tak lepas dari sosok Joind Bayuwinanda. Melalui aktingnya aktor teater yang juga sibuk melatih akting para artis Ibu Kota. Tan Malaka kembali hadir kembali di abad ini.
Siapakah Joind Bayuwinanda? Joind adalah aktor dan sutradara kelahiran Jakarta 14 Mei 1970. Awal karir seni peran dimulai pada 1983, saat itu ia terlibat sebagai gitaris dan vokalis grup Karang Taruna pada kegiatan hari-hari Nasioanal, kemudian menjadi aktor panggung 17 Agustusan.
Bakat otodidak terus berkembang dan tak bisa dibendung sampai akhirnya ada di Gelanggang Remaja Jakarta Barat bersama Ikatan Drama Jakarta Barat. Di sinilah perjalanan panjang malang melintang dunia berkesenian itu dimulai.
Ia pernah menjadi Aktor terbaik pada Festival Teater Jakarta 1994-1995. Saat ini sedang mempersiapkan Monolog “Kucing Hitam” karya Edgar Allan Poe yang rencana akan di bawa keliling Indonesia
Ketika ditawari peran Tan Malaka oleh MainTeater Bandung, Joind sedang sibuk melatih artis. Di dunia kepelatihan artis, ia sudah menggelutinya cukup lama. Ia misalnya pernah acting coach/asstrada sitkom Office Boy I & Office Boy shift 2 Produksi In House RCTI (2006-2008).
Lalu menjadi acting coach sitkom “Di Cari,” staff pengajar sekolah Acting Helmi Yahya (HBA Bandung), Acting Coach sitcom “Sepakat Untuk Tidak Sepakat” In House B Channel, acting coach “Panah Asmara Arjuna” produksi ANTV, acting coach “Kontroversi Vicky” Produksi ANTV (2015).
“Sebelumnya saya memang pernah baca-baca Tan Malaka. Begitu ditawari perankan monolog oleh MainTeater Bandung, saya langsung mau,” kata Joind, di Bandung.
Di bawah arahan sutradara monolog Wawan Sofwan, ia ditawari naskah 35 halaman karya sastrawan Ahda Imran. Sebelum mulai berlatih, ia meminta sutradara tidak menjadikan dirinya Tan Malaka (1897-1949).
“Saya harus menafsirkan Tan Malaka sesuai pemahaman saya,” katanya.
Selama sebulan penuh ia berlatih. Perlu waktu 19 hari untuk menghapal naskah monolog. “Jadi ada rutinitas yang berubah, habis antar anak ke sekolah, saya mulai ngaji Tan Malaka,” katanya.
Latihan dipusatkan di Selasar Sunaryo Bandung. Di sana ia tidak hanya berlatih peran, tetapi berusaha mencerap sosok Tan Malaka agar bisa menjiwai saat pementasan. “Saya juga diajarkan yoga,” katanya.
Ia mengaku sangat menyukai kutipan-kutipan revolusioner Tan Malaka. Salah satu kutipan yang baginya sangat kuat adalah ketika Tan Malaka dipenjara, “Bila ada negara yang rela mati memenjarakan rakyatnya demi kapitalisme dan imperialisme maka itu adalah Republik Indonesia.”
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak