Ingin kuliah di Jerman, Adang cari uang sampai jualan roti bakar


Adang
Bandung.merdeka.com - Jiwa sebagai seorang entrepreneur (pengusaha) ternyata sudah dimiliki Adang Muhidin sejak dirinya lulus kuliah dari Universitas Jendral Ahmad Yani (Unjani) pada tahun 1998 jauh sebelum mendirikan Indonesian Bamboo Community (IBC). Kondisi ekonomi Indonesia yang tengah dilanda krisis moneter membuat lapangan pekerjaan semakin sulit. Dari situ mulai timbul keinginan untuk melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri.
Adang berkisah keinginannya untuk melanjutkan studi ke Jerman rupanya terjadi secara tidak sengaja. Saat itu dirinya sedang melewati kawasan Jalan LLRE Martadinata (Riau) Kota Bandung melihat sebuah plang bertuliskan 'studi di Jerman gratis' yang berada persis di bangunan bernama Geothe Institute.
Karena penasaran Adang kemudian mendatangi tempat tersebut dan menanyakan terkait tawaran kuliah gratis. "Kuliah di Jerman katanya gratis cuma biaya hidupnya mahal," ujar Adang kepada Merdeka Bandung, Kamis (26/11).
Meskipun saat itu Adang tidak memiliki kemampuan bahasa Jerman yang mumpuni, namun dia berfikir bahasa Jerman dapat dipelajari dengan kursus bahasa setibanya di sana.
"Untuk ngelamar universitas di Jerman kan harus kursus dulu di sana. Jadi bisa dipelajari di sana,"kata Adang.
Dari situ, Adang mulai berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang agar bisa berangkat ke Jerman. Setelah berpikir panjang, salah satu cara yang dia tempuh untuk mendapatkan uang yakni dengan berdagang roti bakar. Tidak sedikitpun terbesit rasa gengsi di benaknya meskipun saat itu dia bergelar sarjana.
"Ga ada lah rasa gengsi. Kalau gengsi terus, ga akan maju maju," katanya.
Adang masih ingat, dia berjualan roti bakar di kawasan Bunderan Jalam Sudirman (Jalan H Alpi) Kota Bandung. "Saya jualan roti bakar, alhamdulillah laku. Hampir setahun jualan roti bakar terkumpul uang Rp 15 juta," katanya.
Dari situ, Adang kemudian mulai mengutarakan niatnya melanjutkan studi ke Jerman kepada orang tua. Dia berbicara kepada sang Ayah. Sang Ayah merestui niat Adang, namun tidak bisa memberikan bekal yang cukup karena saat itu hanya pensiunan guru SMK.
"Awalnya Bapak keberatan karena bagimana untuk mencukupi biaya hidup selama kuliah di Jerman. Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya bapak mengizinkan saya berangkat sampai menjual mobilnya dan terkumpulah uang Rp 30 juta. Uang itu dipakai buat bikin paspor, beli tiket dan lain lain. Hingga sisa Rp 18 juta dan akhirnya saya berangkat ke Jerman melanjutkan kuliah S2," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak