1. BANDUNG
  2. PROFIL

Diusia ke 25 tahun, Kent Sukses Miliki Dua Rumah Makan di China dan Indonesia

"Banyak banget orang Indonesia di sana yang kangen sama makanan Indonesia. Makanya saya berkreasi buat makanan".

©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Minggu, 16 Desember 2018 10:10

Merdeka.com, Bandung - Diusianya yang terbilang muda yakni 25 tahun, Kent Wijaya sudah berhasil menjalankan bisnis kulinernya di Guangzhou, China. Tak puas sampai di situ, ia pun kini secara resmi membuka bisnis kulinernya di Kota Kembang. Ini menjadi resto kedua yang dijalaninya bersama rekan-rekan terdekatnya.

Didikan kedua orangtuanya yang menuntut Kent untuk hidup mandiri menjadi latar belakang dibangunnya bisnis di negeri Tirai Bambu itu. Saat mengenyam pendidikan di South China Normal University, China, Kent memiliki ide untuk membuka sebuah restoran dengan suguhan makanan Indonesia.

Bersama rekannya, ia menjalani bisnis yang dimulai pada tahun 2014 silam. Tak disangka jika tempat makannya itu ramai dikunjungi. Banyaknya warga Indonesia yang berada di Guangzhou, China menjadi salah satu nilai lebih dari tempat makan yang dimiliki. Soalnya, ada banyak orang Indonesia yang bisa melepas kerinduan akan makanan asli Tanah Air di sana.

"Banyak banget orang Indonesia di sana yang kangen sama makanan Indonesia. Makanya saya berkreasi buat makanan, saya kasih coba ke teman-teman saya pada suka, dan akhirnya saya buat tempat makan. Ternyata banyak yang suka juga," ujar Kent kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Lafee Creative Food and Lounge, Jalan Ir. H. Djuanda, belum lama ini.

Tak hanya menyuguhkan makanan asli Indonesia, Kent juga menyuguhkan makanan khas Vietnam dan Thailand. Namun, makanan asli Indonesia yang paling laku. Salah satu menu andalannya adalah Ayam Kremes. Tak sedikit orang China yang mencicip sambal terasi pada seporsi Ayam Kremes nya dibuat terkagum.

"Jadi dalam seporsi Ayam Kremes itu saya lengkapi dengan sambal terasi. Nah, ini yang bikin orang China suka. Mereka bilang kenapa sambalnya bisa sewangi itu. Ya kan orang sana enggak kenal terasi, makanya itu yang jadi andalan kami," terangnya.

Kent mengaku bahwa 40 persen pelanggannya merupakan orang Indonesia, Thailand, dan Rusia. Sementara itu, sisanya merupakan warga China yang seringkali merasa bosan dengan makanan asli negaranya. Dibantu oleh sang adik, Willy Wijaya, ia berkreasi untuk semua menu yang disuguhkan.

Tak puas dengan bisnisnya di Guangzhou, China, ia pun kemudian membuka bisnis kuliner keduanya di Bandung. Sebuah tempat makan bertitle Lafee Creative Food and Lounge hadir di Jalan Ir. H. Djuanda. Mengusung makanan berkonsep fusion, sederet menu yang ditawarkan terbilang unik.

"Saya ingin menyajikan menu yang beda dari tempat makan lainnya. Soalnya kan di Bandung ini persaingannya lumayan ya, banyak banget tempat makan dan tempatnya berdekatan. Makanya saya hadirkan menu unik dengan mengkolaborasikan makanan dari satu negara dengan negara lainnya," papar dia.

Rupanya Kent tak hanya menjalani bisnis kuliner. Masih ada bisnis lainnya yang enggan disebutkan olehnya. Ke depan, ia pun berharap bisa terus mengembangkan bisnis yang telah berjalan dan bisa kembali membuka tempat makan baru di daerah lainnya.

(ES/AA)
  1. Kuliner
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA