1. BANDUNG
  2. KULINER

Ronde Jahe Gardujati hadir sejak 1986 dan laris hingga kini

"Awalnya memang iseng, ternyata dapat respon bagus. Banyak yang suka," ujar Nany.

Ronde Jahe Gardujati. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Rabu, 10 Januari 2018 12:37

Merdeka.com, Bandung - Dimulai hanya dengan keisengan dari Anny Poerwanto dan Andy Poerwanto dalam menjalani bisnis ronde jahe, siapa sangka jika bisnis yang diberi nama Ronde Jahe Gardujati itu kini justru menjadi salah satu kuliner legendaris di Kota Kembang.

Hadir sejak 1986, makanan khas negeri Tirai Bambu yang hadir di Jalan Gardujati itu berhasil membuktikan diri bahwa hanya dengan modal iseng saja bisnis mereka bisa bertahan lama. Meski begitu, dalam menjalani bisnisnya pasangan suami istri itu tak pernah main-main.

"Awalnya memang iseng, ternyata dapat respon bagus. Banyak yang suka. Akhirnya kita seriusin dan sampai sekarang kami bersyukur semakin banyak yang suka," ujar Anny kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Warung Djahe, Jalan Astana Anyar, Selasa (9/1).

Anny bercerita, ia yang merupakan keturunan China peranakan ini kerap menyantap ronde jahe khususnya dalam perayaan tradisi tahunan Tang Ce. Setiap tahunnya, ronde jahe yang merupakan makanan 'sakral' itu hanya bisa ditemui setahun sekali.

"Kalau untuk orang Chinese ronde itu jadi makanan tradisi tahunan. Ibu saya tiap tahun bikin setahun sekali makan bareng-bareng tapi ternyata di jalan gitu malah orang banyak menjual. Padahal ronde ini disebut makanan sakral tapi orang menjual umum. Dari situ saya coba iseng buat dengan belajar sama ibu karena ronde buatan ibu saya itu enak banget," katanya.

Bermodalkan rasa percaya diri tinggi ronde jahenya bakal laris manis, Anny dan Andy lalu menjualnya. Meski percaya diri, ia tak pernah berekspektasi bahwa ronde jahe buatannya bisa sesukses seperti sekarang.

Memulai bisnisnya dengan produksi skala kecil, kini setiap harinya Ronde Jahe Gardujati berhasil membuatnya menjadi skala besar. Setidaknya, ada 20 kilogram tepung beras yang diolahnya menjadi adonan ronde.

Anny bercerita, yang membuat produk buatannya tetap laris terjual karena ia selalu menjaga kualitas. Ia tak pernah menggunakan bahan baku instan untuk ronde jahe buatannya. Bahkan keduanya masih turun tangan secara langsung untuk membuat ronde jahe.

"Kita enggak pakai bahan instan, semuanya alami. Mulai dari beras ketan, kita nepung sendiri dengan cara trasidional ditumbuk sendiri, kacang tanah, jahe, dan semuanya dengan kualitas terbaik. Buat kuah jahenya sendiri saya rebus jahenya lama sampai benar-benar mendapat sarinya," papar Anny.

Semakin berkembangnya zaman, Ronde Jahe Gardujati pun mengembangkan produknya. Kini ada tujuh menu yang dijual yakni Ronde Kecil, Ronde Besar, Ronde Campur, Ronde Durian, Tahu Ronde, Ronde Soya, dan Kembang Tahu.

Harga yang dibanderol pun sangat terjangkau mulai dari Rp 14 ribu hingga Rp 19 ribu. Kini Ronde Jahe Gardujati sudah memiliki lima kedai yakni di Jalan Gardujati, Tahu Susu Lembang, Floating Market, Trans Studio Mall Bandung, dan Warung Djahe di Jalan Astana Anyar.

(MT/AA)
  1. Kuliner
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA