MCF pertanyakan, kemampuan NU akan jadi mediator perdamaian Palestina -Israel

user
Endang Saputra 16 Juni 2018, 11:08 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Direktur Moderation Corner Foundation (MCF), Khariri Makmun, mempertanyakan optimisme Nahdlatul Ulama (NU) menjadi mediator perdamaian Palestina-Israel. Dia membandingkannya dengan beberapa hal.

Selain itu, kata Khariri ada beberapa pertanyaan dan catatan yang bisa diajukan untuk melihat kemungkinan NU melakukan kerja besar dalam proyek perdamaian Palestina - Israel, sehingga keinginan ini tidak terkesan bombastis, tetapi terukur sesuai kapasitas dan modalitas NU.

Pertama, kata Khariri modal sosial yang dimiliki NU. Pasalnya, banyak negara dan organisasi besar serta berpengaruh terjun langsung. Amerika Serikat, Rusia, Arab Saudi, PBB, dan OKI, misalnya. Tapi, hasilnya tetap tidak ada kemajuan.

"Kedua, kira-kira siapa tokoh NU yang berpengaruh di dunia internasional, yang dapat diandalkan untuk memimpin delegasi sebagai mediator perdamain?" kata Khariri dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Jumat (15/6).

Ketiga, lanjut Khariri sumber-sumber finansial konkret dan rasional yang dipunyai NU untuk mengelola negosiasi dan perundingan.

"Modal finansial yang kuat dan independen, sangat dibutuhkan untuk membiayai seluruh proses serta menjaga netralitas posisi NU," kata dia.

Selanjutnya, Khariri juga mempertanyakan solusi yang bakal ditawarkan tim mediator NU kepada kedua pihak.

"Apakah solusi two state solution atau tawaran lain?" tanya dia.

Dirinya menambahkan, NU memiliki tugas besar sebagai mediator perdamaian NU. Yakni, meyakinkan dan menyatukan seluruh pihak di dalam Palestina dalam satu front.

Palestina terbagi dua kubu, Hamas dan Fatah. Keduanya tidak pernah 'bertemu' dalam melihat penyelesaian damai Palestina-Israel.

"Mampukah NU menyatukan dua faksi yang berbeda ini?" ujarnya.

Apalagi, pertikaian Israel dan Palestina berlangsung sekitar 70 tahun lamanya. Bahkan, lanjut Khariri, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara pribadi pernah mengaku, angkat tangan dan merasa konflik tidak bisa diselesaikan.

Dia mengingatkan, hal-hal tersebut bukan untuk mempertanyakan kemampuan NU. Namun, ingin siapapun yang terlibat dalam perdamaian Palestina-Israel mempersiapkan diri secara serius. "Baik kapasitas sosial, finansial, intelektual, negosiasi, dan lain-lain," kata dia.

Katib Aam Suriyah Pengurus Besar NU (PBNU), KH Yahya Cholil Tsaqub, diketahui datang ke Israel menjadi pembicara, Minggu (10/6/2018). Kehadirannya memenuhi undangan American Jewish Committee (AJC).

Kredit

Bagikan