1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Museum Sri Baduga Bandung kekurangan tenaga ahli naskah kuno

"Itu pun statusnya masih honorer. Saya harap segera diangkat," kata Sri, kepada Merdeka Bandung.

Prasasti di Museum Sri Baduga. ©2016 Merdeka.com Reporter : Iman Herdiana | Senin, 01 Februari 2016 16:05

Merdeka.com, Bandung - Museum Sri Baduga merupakan pusat benda-benda masa lalu yang bersifat lokal, nasional hingga internasional. Namun museum negeri yang terletak di Jalan BKR Nomor 185 Bandung itu menghadapi minimnya tenaga ahli naskah kuno atau filolog.

Minimnya filolog otomatis kajian pada naskah-naskah kuno yang ada di Museum Sri Baduga berkurang. Menurut filolog Museum Sri Baduga Sri Mulyati, saat ini Museum Sri Baduga hanya memiliki seorang filolog.

"Itu pun statusnya masih honorer. Saya harap segera diangkat," kata Sri, kepada Merdeka Bandung, Senin (01/02).

Dia menjelaskan, basic filologi sang rekan di bidang naskah Sunda, sedangkan dirinya naskah nusantara. Sehingga jika ada naskah nusantara tidak jarang ia membantu-bantu pernaskahan.

Sri Mulyati sendiri sejak lima tahun lalu tidak fokus di filologi, tetapi mengemban fungsi sebagai Pamong Pembinaan Kebudayaan di Museum Sri Baduga yang lingkup kerjanya lebih luas.

Maka untuk mengatasi kekurangan tenaga filolog, pihaknya bekerja sama dengan Universitas Padjdjaran (Unpad) dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa).

Ia menjelaskan, filologi adalah ilmu tentang naskah atau tulisan kuno. Tugasnya membaca naskah kuno, menerjemahkannya dan mengkajinya. Dalam prakteknya, filologi sering bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain tergantung naskah yang dikajinya, mulai ilmu medis, bintang, pertanian, teknik dan lainnya.

Berdasar definisi tersebut, kata Sri, peran filolog sangat besar bagi museum sekelas Museum Sri Baduga. Menurutnya hasil terjemahan atau kajian filolog bisa dipakai kepentingan disiplin ilmu maupun kepentingan ilmiah lainnya.

"Misalnya kita menemukan naskah tentang penyakit tertentu yang ternyata sudah ada obatnya di masa lalu. Itu penting kan untuk zaman sekarang," terangnya.

Minimnya tenaga filolog, kata dia, membuat terjemahan naskah kuno Museum Sri Baduga terhenti sejak 2010. "Meski terjemahan itu masih dikerjakan Manasa, hanya saja belum ke kajian," kata perempuan yang sudah menerjemahkan 28 naskah kuno ini.

Dengan kondisi itu, ia berharap ada penambahan filolog untuk Museum Sri Baduga. Sehingga informasi di masa lalu bisa cepat sampai ke generasi masa kini.

(MT/IH)
  1. Info Kota
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA